Sorong – Produk-produk unggulan asal Papua kian menunjukkan tajinya di pasar internasional. Hingga Semester I Tahun 2026, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Bea Cukai) Khusus Papua mencatat lonjakan nilai ekspor UMKM binaan hingga mencapai USD6,07 juta atau sekitar Rp 98 miliar, meningkat 25,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 4,83 juta.
Tak hanya nilai ekspor yang meningkat, sebanyak 28 dari 30 UMKM binaan atau 93,3 persen kini telah berhasil masuk ke dalam ekosistem ekspor. Capaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan Program Asistensi dan Pengembangan UMKM Berorientasi Ekspor yang dijalankan Bea Cukai Papua melalui pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan usaha, fasilitasi sertifikasi, pemenuhan persyaratan ekspor hingga membuka akses ke pasar global.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Khusus Papua Encep Dudi Ginanjar mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa peran Bea Cukai tidak hanya sebagai pengawas lalu lintas barang, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan daya saing UMKM.
“Capaian ini membuktikan bahwa pembinaan UMKM bukan sekadar memberikan layanan kepabeanan. Yang lebih penting adalah bagaimana membuka akses pasar global bagi pelaku usaha Papua agar produk lokal memiliki daya saing internasional, menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan devisa negara, sekaligus memperluas kesejahteraan masyarakat,” ujar Encep.
Selama Semester I Tahun 2026, seluruh 30 UMKM aktif mendapatkan pendampingan secara komprehensif melalui sinergi Bea Cukai dengan berbagai instansi pemerintah dan badan layanan umum.
Pendampingan dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, pemenuhan standar ekspor, hingga memperluas jaringan pemasaran internasional.
Dari total UMKM binaan tersebut, 17 UMKM berhasil melakukan ekspor perdana, 10 UMKM telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan, 1 UMKM melakukan ekspor melalui pihak ketiga, sementara 2 UMKM lainnya masih menjalani pendampingan lanjutan karena memiliki potensi besar untuk menembus pasar ekspor.
Keberhasilan ini juga diiringi dengan semakin beragamnya komoditas unggulan Papua yang diminati pasar dunia. Udang beku masih menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai USD3,16 juta, disusul ikan segar sebesar USD1,27 juta, kayu olahan senilai USD947 ribu, komoditas perikanan sebesar USD358 ribu, serta kerapu hidup senilai USD132 ribu.
Munculnya kayu olahan sebagai salah satu penyumbang utama ekspor menjadi indikator berkembangnya diversifikasi produk unggulan Papua yang berhasil memenuhi standar perdagangan internasional.
Menurut Encep, pendekatan yang dilakukan Bea Cukai tidak berhenti pada aspek administratif kepabeanan, tetapi juga berfokus membangun kapasitas UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk, memenuhi standar internasional, dan memperluas jejaring pemasaran global secara berkelanjutan.
Program ini turut memberikan dampak ekonomi yang signifikan, mulai dari mendorong UMKM Papua naik kelas, memperluas akses pasar global, meningkatkan devisa hasil ekspor, memperkuat daya saing produk lokal, hingga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Ke depan, Kanwil Bea Cukai Khusus Papua berkomitmen memperluas jaringan pemasaran internasional, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta meningkatkan kualitas pendampingan agar semakin banyak UMKM Papua mampu menjadi eksportir mandiri.
“Dari 30 UMKM binaan aktif, kini 28 telah berhasil masuk ke ekosistem ekspor. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan meningkatnya kapasitas pelaku usaha Papua untuk bersaing di pasar global. Dengan semangat Bea Cukai Makin Baik, kami akan terus mencetak eksportir-eksportir baru dari Tanah Papua sehingga manfaat perdagangan internasional semakin dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutup Encep. (*)













