SORONG – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Kota Sorong menjadi momentum memperkuat peran strategis bidan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan ibu, bayi, dan anak sekaligus menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung LJ Kompleks Kantor Wali Kota Sorong, Selasa (14/7/2026), dihadiri jajaran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta para bidan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di Kota Sorong.
Ketua IBI Kota Sorong Martha Mansawan mengatakan, usia ke-75 tahun IBI menjadi perjalanan panjang organisasi profesi yang telah menjadi rumah besar bagi para bidan di seluruh Indonesia sejak didirikan pada 24 Juni 1951 melalui Kongres Bidan Indonesia pertama di Jakarta.
Menurutnya, selama tujuh dekade lebih, IBI terus berkembang menjadi organisasi profesi yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, pengembangan pendidikan, peningkatan kompetensi, penegakan kode etik, advokasi kebijakan kesehatan hingga perlindungan bagi tenaga bidan dan masyarakat.
“IBI telah menjadi mitra pemerintah dalam berbagai program kesehatan, mulai dari pelayanan kesehatan ibu dan bayi, keluarga berencana, penurunan angka kematian ibu dan bayi, pencegahan stunting, peningkatan kesehatan reproduksi hingga penguatan pelayanan kesehatan primer,” ujarnya.
Martha menuturkan tema HUT IBI ke-75, “Dunia Membutuhkan Lebih Dari Sejuta Bidan, Bidan Indonesia Memperkuat Kepemimpinan Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan Berbasis Hak, Berpusat Pada Perempuan dan Anak, Serta Siap Mengawal Generasi Emas 2045,” bukan sekadar slogan, tetapi menjadi panggilan moral sekaligus arah strategis profesi bidan.
Ia menegaskan, pelayanan kebidanan harus benar-benar menempatkan perempuan dan anak sebagai pusat pelayanan dengan memperhatikan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, budaya hingga spiritual.
“Bidan bukan hanya tenaga kesehatan. Bidan adalah sahabat perempuan, pendamping keluarga, pendidik masyarakat, konselor, advokat kesehatan sekaligus penggerak perubahan di tengah komunitas,” katanya.
Menurut Martha, tantangan pelayanan kesehatan di Kota Sorong memiliki karakteristik tersendiri karena masih terdapat masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau dengan akses transportasi yang terbatas. Dalam kondisi tersebut, kehadiran bidan sering menjadi harapan pertama bahkan penyelamat bagi ibu hamil dan bayi yang membutuhkan pertolongan.

Karena itu, ia mengajak seluruh bidan terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan berkelanjutan, penguasaan teknologi kesehatan digital, telekonsultasi, penerapan praktik berbasis bukti ilmiah, serta memperkuat kolaborasi dengan dokter, perawat, ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya.
“Bidan merupakan garda terdepan dalam pencegahan stunting, deteksi dini risiko kehamilan, penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, pelayanan keluarga berencana serta pemberdayaan perempuan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong Jemima Elisabeth Windesi berharap, IBI terus menjadi organisasi profesi yang maju, profesional dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi.
Menurutnya, generasi yang berkualitas tidak lahir secara instan, tetapi dipersiapkan sejak masa kehamilan hingga proses tumbuh kembang anak yang sehat.
“Generasi yang berkualitas dibentuk sejak dalam kandungan, dilahirkan dengan selamat oleh seorang bidan, dibesarkan dalam lingkungan yang sehat, memperoleh pendidikan yang baik serta pendampingan keluarga yang kuat. Dalam setiap proses itu selalu ada peran seorang bidan,” ujarnya.
Jemima menyebut, bidan bukan sekadar tenaga kesehatan, tetapi sahabat perempuan, pendamping keluarga, pendidik masyarakat sekaligus penjaga awal kehidupan.
“Di balik tangisan pertama seorang bayi ada tangan-tangan bidan yang bekerja penuh kesabaran. Di balik senyum seorang ibu yang berhasil melahirkan dengan selamat, ada doa, pengorbanan dan dedikasi seorang bidan,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, organisasi profesi, organisasi perempuan dan seluruh elemen masyarakat.
Saat ini Kota Sorong memiliki 381 bidan yang tersebar di enam rumah sakit swasta, satu rumah sakit pemerintah dan 11 puskesmas. Selain itu, terdapat 117 Posyandu yang telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) dengan pelayanan kesehatan sepanjang siklus hidup, mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Melalui peringatan HUT ke-75 IBI ini, para bidan di Kota Sorong diharapkan semakin memperkuat profesionalisme, kepemimpinan, dan kolaborasi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas demi melahirkan generasi Papua dan Indonesia yang sehat, cerdas, serta mampu menyongsong Indonesia Emas 2045.













