Berita  

Polda Papua Barat Dukung Kemandirian Benih Jagung

MANOKWARI – Komitmen memperkuat ketahanan pangan di Papua Barat terus diperlihatkan melalui kolaborasi lintas sektor. Wakapolda Papua Barat Brigjen Pol. Dr. Sulastiana bersama Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Dr. Abdul Syukur Syarif meninjau langsung kegiatan penangkaran benih jagung serta pembangunan gudang pengering (dryer) jagung di SP 5 Kampung Macuan, Kabupaten Manokwari, Sabtu (6/6/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan swasembada pangan melalui pengembangan komoditas jagung yang diproyeksikan menjadi salah satu sektor unggulan pertanian di Papua Barat.

Di lokasi penangkaran, rombongan berdialog dengan para petani sekaligus melihat perkembangan lahan pembenihan jagung yang disiapkan sebagai pusat penyediaan benih unggul bagi petani di Kabupaten Manokwari dan wilayah sekitarnya.

Tak hanya memantau pertumbuhan tanaman, Wakapolda dan Kepala BRMP juga meninjau progres pembangunan gudang pengering jagung yang nantinya menjadi fasilitas penting dalam menjaga kualitas benih dan hasil panen. Kehadiran dryer tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem pembenihan modern dan meningkatkan nilai produksi pertanian secara berkelanjutan.

Dalam peninjauan itu, tim teknis menjelaskan metode pemupukan yang diterapkan pada tanaman jagung. Setiap pohon diberikan enam gram pupuk dengan komposisi satu bagian urea dan tiga bagian Phonska. Pupuk ditempatkan pada jarak lima hingga sepuluh sentimeter dari batang tanaman sebelum ditutup kembali dengan tanah agar penyerapan unsur hara berlangsung maksimal.

Rombongan juga meninjau sejumlah tanaman yang terdampak serangan hama Spodoptera frugiperda atau ulat grayak jagung, salah satu ancaman utama budidaya jagung di Indonesia. Meski demikian, kondisi tanaman di lahan percontohan tersebut dinilai masih baik dan menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Kepala BRMP Dr. Abdul Syukur Syarif menjelaskan, lahan percontohan seluas sekitar satu hektare itu diproyeksikan mampu menghasilkan enam ton benih jagung.

“Produksi tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan penanaman hingga sekitar 200 hektare lahan jagung di Kabupaten Manokwari,” jelasnya.

Menurutnya, program ini diharapkan menjadi model percontohan pembenihan jagung bagi daerah lain di Papua Barat. Dengan kemandirian benih, petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar daerah sehingga keberlanjutan produksi dapat lebih terjamin.

Pada kesempatan yang sama, para petani juga diperkenalkan dengan konsep relay planting atau tanam sisip, yakni metode penanaman kembali sebelum masa panen selesai. Teknik ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, mempercepat siklus produksi, menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan tanah, serta mengurangi biaya operasional pertanian.

Wakapolda Papua Barat Brigjen Pol. Sulastiana menegaskan, keberhasilan pengembangan jagung harus didukung dengan perencanaan yang matang dan berbasis data.

Menurutnya, diperlukan pendataan menyeluruh terkait luas lahan potensial, jumlah kelompok tani, hingga kebutuhan benih di setiap distrik agar program pengembangan jagung dapat berjalan secara terukur dan berkelanjutan.

Sementara itu, Plt Kabid Humas Polda Papua Barat Kombes Pol. Gadug Kurniawan mengatakan, keterlibatan Polri dalam sektor pertanian merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Program penangkaran benih jagung dan pembangunan fasilitas pendukung seperti gudang pengering merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian serta kemandirian benih di Papua Barat. Polda Papua Barat siap mendukung berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan swasembada pangan,” ujarnya.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, akademisi, dan kelompok tani, Kabupaten Manokwari diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu pusat produksi benih dan jagung unggulan di Papua Barat, sekaligus menjadi motor penggerak terwujudnya ketahanan pangan dan swasembada pangan di wilayah timur Indonesia. (*)

Editor: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *