SORONG – Tanah Papua kini menjadi pusat perhatian dunia. Selama tiga hari, dari 2 – 4 September 2026, Kota Sorong, Papua Barat Daya, menjadi saksi lahirnya paradigma baru dalam pengelolaan kekayaan alam dan masa depan masyarakat Bumi Cenderawasih.
Lebih dari 1.030 peserta, mulai dari masyarakat adat, pemerintah, akademisi, hingga mitra internasional berkumpul dalam PAPEDA Summit 2026 (Papua Action for Development, Economy and Sustainable Nature). Bukan sekadar forum diskusi, summit ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa pembangunan di Papua tidak lagi hanya soal angka ekonomi, melainkan tentang menjaga napas ekosistem dan memuliakan hak-hak masyarakat adat.
Tanah Papua adalah rumah bagi 34,2 juta hektare hutan primer dan 1,6 juta hektare mangrove, yang menjadikannya salah satu “paru-paru dunia” paling krusial. Namun, di balik kekayaan itu, tantangan pembangunan tetap nyata.

“Urusan hukum dan pengakuan hak atas tanah masyarakat adat harus dipercepat. Pemerintah provinsi berkomitmen membantu penuh pemetaan wilayah adat,” tegasnya di hadapan ribuan peserta.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan memberikan pesan kuat mengenai keberpihakan pusat. “Pembangunan yang tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, maka perlu dipertanyakan. Saya percaya, Papua harus diberi kepercayaan penuh untuk menentukan arah pembangunannya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PAPEDA Summit 2026 Julian Kelly Kambu mengungkapkan, forum ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman melalui lima agenda strategis. Fokusnya sangat tajam, mulai dari pengakuan hak wilayah adat, pengembangan New Nature Economy (Ekonomi Alam Baru), hingga kedaulatan pangan dan energi.
Dengan pendekatan ridge-to-reef (dari pegunungan hingga laut), summit ini mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi modern. Selama tiga hari, para delegasi membedah solusi untuk penyelarasan kebijakan pusat dan daerah demi aksi iklim, percepatan perlindungan hutan adat dan ekosistem pesisir, pengembangan rantai nilai berbasis sumber daya lokal, penguatan kedaulatan pangan mandiri dan inovasi pembiayaan hijau-biru.
PAPEDA Summit 2026 bukan sekadar deretan sesi pleno dan diskusi panel. Melalui PAPEDA Expo, para peserta disuguhi praktik-praktik baik inisiatif komunitas—dari produk agroforestri hingga model ekowisata berbasis masyarakat. Kunjungan lapangan ke kawasan hutan adat dan wilayah kelola masyarakat menjadi bukti nyata bahwa keberlanjutan adalah kunci ketahanan Papua di masa depan.
Forum ini menjadi bukti bahwa Tanah Papua siap menjadi pemimpin global dalam model pembangunan yang selaras dengan alam. Harapan besar kini digantungkan pada kolaborasi lintas sektor yang telah terbentuk: agar komitmen di Sorong ini tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi menjadi langkah nyata bagi kesejahteraan masyarakat Papua yang adil dan lestari.













