Dua pekan setelah api melalap rumah-rumah mereka, warga Klademak 2 Pantai, Kelurahan Malawei, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, masih berjuang menata hidup dari sisa-sisa kehilangan. Di tengah keterbatasan tenda pengungsian, seorang ibu merindukan rumah, seorang bayi membutuhkan susu dan seorang anak kecil membutuhkan tempat yang aman untuk tumbuh. Kehadiran Pertamina EP Papua Field membawa lebih dari sekedar bantuan. Ada kepedulian, penguatan dan harapan bahwa mereka tidak harus menghadapi musibah ini sendirian.
Pagi itu, kenangan tentang rumah masih terasa begitu dekat bagi Risdawati. Bukan karena ia sedang berada didalam rumahnya, melainkan karena rumah yang pernah menjadi tempat keluarganya berteduh kini hanya menyisakan kenangan. Tak ada lagi tempat tidur untuk merebahkan badan setelah lelah menjalani hari, tak ada lagi perlengkapan rumah tangga yang bisa digunakan untuk memasak atau sekedar menyiapkan kebutuhan anak-anak. Pakaian, perabot dan barang-barang yang selama ini dikumpulkan sedikit demi sedikit, semuanya hilang bersama kobaran api. Yang tersisa hanya dirinya, suami dan dua anak yang harus tetap ia jaga, sekalipun kehidupan mereka mendadak berubah dalam hitungan waktu.
Musibah itu terjadi pada 24 Juni 2026 sekitar pukul 05.00 WIT, ketika sebagian besar orang mungkin masih terlelap. Api melalap rumah-rumah warga di Kompleks Klademak 2 Pantai, Kelurahan Malawei, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya. Bagi Risdawati, pagi itu bukan sekedar awal hari yang buruk. Itu adalah pagi ketika ia harus menyelamatkan anak-anaknya tanpa sempat memikirkan apa yang akan mereka miliki setelah semuanya berakhir. Saat kebakaran terjadi, ia hanya berada bersama kedua anaknya. Suaminya Randis, sedang melaut untuk mencari ikan. Di rumah itu, hanya ada seorang ibu dan dua anak kecil yang membutuhkan perlindungan.
Dalam situasi yang kacau, Risdawati berusaha menyelamatkan mereka. Ia menggendong Fatimah yang masih berusia tiga bulan, sementara Maryam kakaknya yang berusia tiga tahun lebih digandeng erat dengan tangan yang lain. Tak ada waktu untuk mengumpulkan pakaian atau menyelamatkan barang-barang berharga. Baginya yang paling penting saat itu hanya satu, yakni kedua anaknya harus selamat.
Ia sempat mengambil sarung agar anak-anaknya tidak kedinginan. Namun dalam kepanikan dan upaya mencari tempat yang aman, ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hingga akhirnya menuju masjid. Pukul lima pagi itu, Risdawati kehilangan rumahnya. Tetapi ia berusaha memastikan bahwa ia tidak kehilangan kedua buah hatinya. Ketika kabar kebakaran sampai kepada Randis, suaminya hanya berpesan agar keluarganya mengutamakan keselamatan.
“Yang penting kalian selamat, jangan pikirkan rumah dan barang-barang yang sudah terbakar,” ucap Risdawati menirukan suaminya.
Pesan itu sederhana, tetapi didalamnya tersimpan kecemasan seorang suami dan ayah yang berada jauh di laut ketika keluarganya menghadapi bahaya. Rumah boleh terbakar, barang-barang boleh habis. Namun selama istri dan anak-anaknya selamat, masih ada sesuatu yang bisa ia syukuri di tengah musibah. Bagi Risdawati, kalimat itu mungkin menjadi penguat untuk bertahan. Sebab setelah api padam, kehidupan tidak serta merta kembali seperti semula. Justru disitulah perjuangan baru dimulai.

Dua pekan berlalu sejak kebakaran itu, pada 3 Juli 2026, Risdawati dan warga terdampak lainnya masih berusaha menjalani hari-hari di tengah keterbatasan pengungsian. Di tempat pengungsian, kebutuhan hidup tidak pernah berhenti. Anak-anak tetap membutuhkan susu, popok, pakaian, kasur dan bantal. Orang dewasa membutuhkan tempat untuk beristirahat, perlengkapan memasak, serta kepastian mengenai tempat tinggal yang bisa mereka tempati kembali.
Bagi keluarga dengan bayi berusia tiga bulan seperti Risdawati, kebutuhan itu bukanlah perkara kecil. Seorang bayi tidak bisa menunggu sampai keadaan kembali normal untuk mendapatkan susu dan popok. Seorang anak kecil juga tidak memahami mengapa rumah yang sebelumnya menjadi tempat bermain kini tidak lagi ada.
Mereka hanya tahu bahwa kehidupan mereka berubah. Mereka harus tinggal di tempat yang berbeda, tidur dengan fasilitas seadanya dan bergantung pada bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika ditanya mengenai hal yang paling dibutuhkan, jawaban Risdawati terdengar sederhana, yakni rumah.
Ia ingin keluarganya kembali memiliki tempat tinggal. Tempat untuk membaringkan anak-anaknya, menyimpan pakaian, menyiapkan makanan dan menjalani kehidupan tanpa harus terus berada dalam pengungsian. Selain rumah, ia juga berharap bantuan yang diterima dapat mencukupi kebutuhan yang hilang akibat kebakaran, terutama perlengkapan rumah tangga.
Di tengah segala keterbatasan itu, ada satu kenyataan yang sulit dihindari. Yakni membangun kembali kehidupan membutuhkan waktu, tenaga dan dukungan yang tidak sedikit. Risdawati sendiri baru sekitar delapan bulan tinggal di kawasan tersebut sebelum musibah terjadi. Belum lama ia menata kehidupan bersama keluarganya, kebakaran justru memaksanya memulai semuanya dari awal.
Delapan bulan seharusnya menjadi waktu untuk membangun rasa aman, mengenal lingkungan dan mengumpulkan sedikit demi sedikit kebutuhan keluarga. Namun, semuanya berubah ketika api datang. Kini ia harus kembali belajar bertahan, kali ini dengan dua anak kecil yang sepenuhnya bergantung kepadanya.

Di tengah suasana itulah, keluarga besar Pertamina EP Papua Field datang membawa bantuan bagi warga terdampak kebakaran di Klademak 2 Pantai, Kota Sorong. Kehadiran mereka pada 3 Juli 2026 bukan semata-mata untuk menyerahkan bantuan bahan pokok, barang-barang kebutuhan dan sejumlah dukungan dana. Ada pesan lain yang ingin disampaikan kepada warga yang sedang berjuang menghadapi kehilangan, bahwa mereka tidak sendiri.
Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi memahami, bahwa kebakaran bukanlah peristiwa yang bisa diinginkan atau diperkirakan akan terjadi. Namun ketika musibah telah menimpa masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, kepedulian tidak seharusnya berhenti pada rasa prihatin. Harus ada langkah nyata, terlebih kawasan yang terdampak berada dekat dengan lingkungan kerja perusahaan. Bagi Ardi, kedekatan itu menghadirkan tanggung jawab moral untuk hadir, melihat langsung keadaan warga dan ikut membantu meringankan beban mereka.
Ia menyebut bantuan tersebut merupakan bagian dari sinergi antara SKK Migas, Pertamina dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya. Namun dibalik koordinasi kelembagaan itu, ada sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia. Yaitu keinginan untuk memastikan bahwa orang-orang yang sedang kehilangan tidak merasa ditinggalkan.
“Kami hadir selain memberikan bantuan, juga memberikan semangat dan bukti kepada masyarakat korban kebakaran bahwa mereka tidak sendiri,” ujar Ardi.
Bantuan yang dibawa merupakan hasil kepedulian para pekerja dan keluarga besar Pertamina EP Papua Field. Ada bahan pokok makanan, barang-barang kebutuhan serta sejumlah bantuan dana yang diharapkan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban. Mungkin bantuan itu belum mampu menggantikan rumah yang habis terbakar, belum pula bisa mengembalikan seluruh barang yang hilang atau menghapus kecemasan warga mengenai masa depan.
Namun bagi seseorang yang sedang berjuang dari hari ke hari, uluran tangan sekecil apapun dapat menjadi alasan untuk kembali menguatkan hati. Sebab ketika seseorang kehilangan hampir seluruh yang dimilikinya, yang dibutuhkan bukan hanya barang untuk bertahan hidup. Ia juga membutuhkan keyakinan bahwa masih ada orang lain yang peduli terhadap nasibnya. Ardi ingin pesan itu sampai kepada para korban, terutama anak-anak. Ia berharap musibah yang terjadi tidak membuat mereka kehilangan semangat, tidak mengganggu kondisi psikologis mereka secara berkepanjangan dan tidak memutus aktivitas mereka untuk belajar serta tumbuh. Di hadapan anak-anak yang sedang mengalami masa sulit, Ardi tidak hanya berbicara sebagai seorang pimpinan perusahaan. Ia juga hadir sebagai seseorang yang pernah merasakan kehilangan serupa.
Ada bagian dari kunjungan itu yang terasa lebih personal, ketika Ardi berbicara kepada anak-anak korban kebakaran. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya sendiri, dimana rumah orangtuanya pernah terbakar habis. Bahkan peristiwa itu terjadi dua kali. Ia mengetahui bagaimana rasanya melihat tempat tinggal dan barang-barang yang dimiliki keluarganya lenyap dilalap api. Ia memahami bahwa dibalik rumah yang terbakar, ada kehidupan yang ikut terguncang. Namun dari pengalaman itulah, ia mencoba menyampaikan pesan kepada anak-anak di Klademak 2 Pantai bahwa musibah bukan akhir dari segalanya.
Ardi bercerita bahwa meskipun rumah orangtuanya pernah terbakar, ia tetap bersemangat bersekolah dan belajar. Kehilangan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melangkah, kehidupan memang bisa berubah dalam sekejap, tetapi harapan tetap perlu dijaga. Barangkali bagi anak-anak yang mendengarnya, cerita itu belum sepenuhnya mereka pahami. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti bagaimana sebuah rumah dapat hilang dan bagaimana sebuah keluarga harus membangun kembali kehidupannya dari awal.

Tetapi pesan itu bisa tumbuh bersama mereka. Suatu hari nanti, ketika mereka mengingat masa-masa sulit di pengungsian, mereka mungkin akan mengenang bahwa pernah ada seseorang yang datang, duduk bersama mereka dan bercerita bahwa dirinya pun pernah mengalami hal yang sama. Bukan untuk membandingkan penderitaan, bukan pula untuk meminta mereka segera melupakan kesedihan. Melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki masa depan.
Bagi anak-anak, kata-kata penyemangat terkadang menjadi sesuatu yang sederhana tetapi berarti. Terlebih ketika kehidupan yang mereka kenal mendadak hilang dan orang-orang dewasa di sekeliling mereka pun sedang berjuang mencari jalan keluar. Ardi ingin mereka tetap belajar, tetap bermain dan tetap memiliki keberanian untuk bermimpi. Sebab kebakaran boleh menghancurkan rumah, tetapi jangan sampai ikut memadamkan cita-cita anak-anak yang tinggal didalamnya.
Ketika melihat langsung puing-puing rumah warga, Field Manager Pertamina EP Papua Field tampak prihatin. Di hadapannya, sisa-sisa bangunan itu menjadi saksi betapa cepat sebuah kehidupan dapat berubah. Dibalik setiap rumah yang hangus, ada cerita yang berbeda-beda. Ada keluarga yang kehilangan tempat untuk membesarkan anak-anaknya, ada orangtua yang harus memikirkan bagaimana menyediakan makanan untuk esok harinya. Ada anak-anak yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan pengungsian dan ada pula mereka yang masih berusaha memahami mengapa rumah yang selama ini memberi rasa aman tiba-tiba tidak lagi ada.
Kebakaran tidak hanya membakar kayu, dinding, atap dan perabot. Dalam sekejap, ia juga meruntuhkan rutinitas yang selama ini membuat kehidupan terasa biasa. Dapur yang dahulu digunakan untuk memasak menjadi kenangan. Tempat tidur yang biasa digunakan anak-anak untuk beristirahat tidak lagi tersedia. Barang-barang yang dikumpulkan melalui kerja keras bertahun-tahun hilang tanpa sempat diselamatkan.
Karena itu, menurut Ardi, pemulihan tidak seharusnya berhenti pada pembangunan kembali rumah-rumah yang terbakar. Ia berharap perbaikan dilakukan dengan mempertimbangkan mitigasi, agar kejadian serupa dapat dicegah. Terlebih berdasarkan informasi yang diterimanya, kawasan tersebut pernah mengalami kebakaran sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Riwayat itu menjadi pengingat bahwa pembangunan kembali perlu disertai upaya mengurangi resiko, bukan sekedar mengembalikan bangunan seperti keadaan semula.
Ardi juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar warga ketika proses pembangunan dilakukan, terutama ketersediaan air bersih dan fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK). Letak pemukiman yang berada di kawasan pesisir membuat kebutuhan tersebut perlu diperhatikan secara serius. Air bersih bukan sekedar kebutuhan untuk memasak dan minum. Bagi keluarga yang tinggal di pengungsian, air bersih berkaitan langsung dengan kebersihan, kesehatan anak-anak dan kemampuan warga menjalani kehidupan sehari-hari dengan layak. Terlebih bagi ibu seperti Risdawati, yang harus merawat bayi berusia tiga bulan dan seorang anak berusia tiga tahun lebih. Ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi sangat berarti untuk menjaga kesehatan kedua buah hatinya.
“Kami berharap kalaupun nanti dibangun kembali, aspek-aspek yang berpotensi menyebabkan kejadian serupa bisa dimitigasi sejak awal,” imbuh Ardi.
Ia juga berharap, kebutuhan dasar masyarakat tidak dilupakan dalam proses pemulihan. Perbaikan rumah harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap air bersih, sanitasi dan kesehatan. Sebab, membangun rumah saja belum tentu cukup untuk membuat sebuah keluarga kembali merasa aman. Rumah yang layak membutuhkan lingkungan yang sehat, kehidupan yang pulih membutuhkan akses terhadap kebutuhan dasar dan masyarakat yang bangkit membutuhkan dukungan agar tidak terus menerus hidup dalam kecemasan akan musibah yang sama.
Ardi berharap, Pertamina EP Papua Field dapat terus berkolaborasi dengan Pemerintah dan berbagai pihak untuk mendukung proses pemulihan tersebut. Baginya, kepedulian tidak semestinya berhenti ketika bantuan telah diserahkan atau ketika kunjungan selesai dilakukan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat kembali berdiri, menata kehidupan dan tumbuh dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya.
Bagi Risdawati, harapan itu mungkin belum berbentuk rencana besar tentang pembangunan kawasan atau mitigasi bencana. Harapannya lebih dekat dengan kesehatan. Ia ingin memiliki rumah kembali, ia ingin anak-anaknya tidur dengan nyaman dan ia ingin bisa menyediakan susu bagi fatimah yang masih sangat kecil serta kebutuhan Maryam yang sedang tumbuh. Ia ingin memasak tanpa harus bergantung pada dapur umum, ia ingin menyimpan barang-barang keluarganya di tempat sendiri dan ia ingin kembali menjalani hari-hari sebagai seorang ibu tanpa terus dihantui pertanyaan tentang dimana keluarganya akan tinggal esok hari.

Keinginan itu mungkin terdengar sederhana bagi mereka yang masih memiliki rumah. Namun bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal, hal-hal sederhana itulah yang menjadi kebutuhan paling mendasar. Di tengah puing-puing yang tersisa, Risdawati tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap bantuan yang diberikan dapat membantu menggantikan sebagian dari apa yang hilang dan ada jalan agar keluarganya bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Sementara itu, Randis masih menjadi bagian dari perjuangan keluarga. Sebagai pencari ikan di laut, ia harus tetap memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah keadaan yang tidak lagi sama. Kebakaran telah merenggut rumah mereka, tetapi tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak tetap berjalan. Fatimah akan terus bertumbuh dan Maryam akan terus belajar mengenal dunia. Keduanya membutuhkan lebih dari sekedar makanan untuk hari ini. Mereka membutuhkan trmpat yang aman, kasih sayang dan kesempatan untuk tumbuh tanpa kehilangan harapan. Disinilah kepedulian banyak pihak menemukan makna.
Bantuan dari Pertamina EP Papua Field mungkin tidak dapat mengembalikan setiap barang yang terbakar. Cerita Field Manager Pertamina EP Papua Field, Ardi, mungkin tidak serta merta menghilangkan kesedihan anak-anak. Dukungan Pemerintah dan masyarakat pun membutuhkan proses panjang, agar seluruh warga bisa kembali memiliki rumah. Namun setiap bentuk kepedulian, dapat menjadi bagian dari jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik. Satu paket bahan makanan membantu keluarga bertahan hari ini, perlengkapan bayi membantu seorang ibu merawat anaknya, sebuah cerita tentang keteguhan memberi anak-anak alasan untuk tetap berani bermimpi dan upaya membangun kembali dengan lebih aman dapat menjadi perlindungan bagi kehidupan mereka di masa depan.

Pada akhirnya kisah kebakaran di Klademak 2 Pantai, Kota Sorong, bukan semata-mata cerita tentang rumah-rumah yang hangus pada suatu pagi di Bulan Juni 2026. Ini adalah cerita tentang seorang ibu yang berlari sambil menggendong bayinya dan menggandeng anaknya yang lain, tentang seorang suami yang dari kejauhan hanya bisa berharap keluarganya selamat, tentang seorang anak yang harus menjalani hari-hari tanpa rumah yang dikenalnya dan tentang seorang pria bernama Ardi yang datang membawa bantuan sekaligus membagikan kenangan masa kecilnya sendiri, ketika ia pun pernah kehilangan rumah akibat kebakaran.
Di antara mereka, ada satu hal yang menyatukan. Yaitu pengalaman bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi manusia tetap membutuhkan alasan untuk bangkit. Bagi warga Klademak 2 Pantai, perjalanan untuk pulih mungkin masih panjang. Rumah-rumah perlu dibangun kembali, kebutuhan dasar harus dipenuhi dan rasa aman perlahan-lahan perlu dipulihkan. Namun selama masih ada tangan yang terulur, perhatian yang tulus dan kemauan untuk berjalan bersama, harapan itu tidak sepenuhnya hilang. Sebab rumah bukan hanya tentang dinding, atap atau lantai tempat seseorang berpijak. Rumah adalah tempat seorang ibu menidurkan anaknya, tempat seorang ayah pulang setelah mencari nafkah, serta tempat anak-anak tumbuh, belajar dan merasa terlindungi.
Ketika rumah terbakar, semua itu seolah ikut hilang. Tetapi selama keluarga tetap saling menggenggam dan masih ada orang-orang yang bersedia membantu, kehidupan selalu memiliki kesempatan untuk dibangun kembali. Mungkin, itulah makna paling dalam dari kehadiran di tengah para korban kebakaran. Bukan sekedar datang membawa bantuan, melainkan ikut meyakinkan mereka bahwa setelah api, masih ada hari esok. Bahwa diantara puing-puing dan air mata, masih ada harapan yang bisa dirawat bersama. Harapan agar Fatimah dan Maryam kelak tumbuh dengan sehat, agar Risdawati dan Randis kembali memiliki rumah dan agar anak-anak di Klademak 2 Pantai tetap berani bermimpi meskipun pernah menyaksikan bagaimana api mengubah kehidupan mereka. Sebab yang terbakar hari itu adalah rumah mereka, bukan kasih sayang seorang ibu. Bukan tanggung jawab seorang ayah dan bukan pula harapan mereka untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.













