Berita  

Saat Pelepah Pisang Menjernihkan Air, Kisah Malasigi Menjaga Hutan dan Menyalakan Harapan

Pagi di Kampung Adat Malasigi tidak pernah benar-benar dimulai dari suara mesin kendaraan atau hiruk pikuk kota. Ia datang perlahan bersama kabut yang menggantung di antara pepohonan, suara burung yang sesekali terdengar dari balik hutan, serta gemericik air yang mengalir dari pegunungan. Di tempat ini, hutan bukan sekedar bentangan hijau. Hutan adalah rumah dan sumber kehidupan.

Bagi masyarakat adat Suku Moi Kelim yang mendiami Malasigi, hutan bahkan memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam dari pada sekedar sumber ekonomi.

“Tanah ini sebagai Bapak dan Mama”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi masyarakat Malasigi, ia mengandung cara pandang yang telah diwariskan dari generasi ke generasi bahwa tanah tidak semata-mata untuk dimiliki. Melainkan dihormati, dirawat dan diwariskan. Dari sanalah kisah perubahan Kampung Adat Malasigi bermula. Sebuah kampung yang dahulu hidup dalam keterbatasan, perlahan menemukan cara baru untuk menjaga hutan sekaligus menghidupkan masyarakatnya.

Di tengah perjalanan itu, hadir Program Matahati Malasigi. Sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat adat yang dikembangkan PT Pertamina EP Papua Field melalui pendekatan konservasi, ekowisata, inovasi lingkungan, serta penguatan ekonomi masyarakat. Tetapi kisah Matahati Malasigi sesungguhnya bukan hanya tentang Pertamina, bukan pula hanya tentang teknologi. Kisah ini adalah tentang orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal, menjaga tanah leluhur dan mencari cara agar hutan yang mereka lindungi dapat memberikan kehidupan tanpa harus dihancurkan.

Bagi masyarakat adat Suku Moi Kelim yang mendiami Malasigi, hutan bahkan memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam dari pada sekedar sumber ekonomi, foto: Irianti/Balleonews

Ada masa ketika mendapatkan air bersih bukanlah perkara membuka keran, masyarakat Malasigi harus mengambil air dari sungai. Air yang mengalir dari alam itu kemudian dibawa pulang. Sebelum diminum, air harus dimasak terlebih dahulu. Setelah itu, masyarakat masih harus menunggu satu hingga dua jam agar kotoran yang terbawa air mengendap. Barulah air tersebut dianggap cukup aman untuk dikonsumsi. Namun bahkan setelah melalui proses itu, resiko kesehatan tetap ada.

“Dari awal itu kita selalu minum air sungai yang harus dimasak dulu, kemudian didiamkan selama satu sampai dua jam supaya kotorannya bisa tertinggal dan akhirnya bisa kita minum,” cerita Lisbet Suu saat dikunjungi awak media, Senin (27/7/2026).

Ia mengingat masa ketika masyarakat masih mengkonsumsi air sungai secara langsung. “Dulu waktu kita masih minum air sungai langsung, itu kita sering sakit,” tutur Lisbet.

Kini, pemandangan itu perlahan berubah. Di sejumlah rumah, masyarakat cukup memutar keran. Air mengalir dan air itu sudah melewati proses penyaringan, tidak lagi harus menunggu endapan.

“Sekarang kami tinggal putar keran di rumah, air yang keluar di rumah sudah air bersih, tidak kotor seperti dulu lagi,” tambahnya.

Perubahan itu terlihat sederhana. Tetapi bagi masyarakat yang bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan air bersih, sebuah keran yang mengalirkan air layak pakai merupakan perubahan besar. Di balik air yang mengalir itu terdapat sebuah inovasi sederhana namun memiliki cerita panjang. Hydro B-Leaf Filter, merupakan filter air berbahan dasar pelepah pisang. Pelepah yang sebelumnya dianggap sebagai sisa tanaman, justru menemukan kehidupan baru sebagai bagian dari teknologi pengolahan air.

Malasigi memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanaman pisang tumbuh dan dipanen berulang sepanjang tahun. Namun setelah buahnya dipanen, pelepah pisang biasanya dibiarkan begitu saja dan limbah organik itu menumpuk di lahan. Dalam jumlah besar, tumpukkan biomassa dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan. Dari persoalan itulah lahir sebuah gagasan, bagaimana jika sesuatu yang selama ini dianggap limbah justru dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan lain?

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui inovasi Revitaleaf – Revitalizing Clean Energy and Biodegradable Water Filtration Using Banana Leaf. Konsepnya memadukan dua kebutuhan mendasar masyarakat Malasigi dan air bersih. Untuk energi, dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 8700 watt. Untuk air, pelepah pisang dimanfaatkan sebagai media filtrasi melalui Hydro B-Leaf Filter. Dengan demikian, satu inovasi tidak berdiri sendiri. Energi bersih mendukung sistem pengolahan air, limbah pertanian dimanfaatkan menjadi media penyaring.

Di tengah rimbunnya hutan Kampung Adat Malasigi, dua tangki penampungan air bukan sekedar fasilitas, melainkan simbol harapan bagi masyarakat. Melalui kepedulian terhadap lingkungan dan inovasi yang bersumber dari alam, warga Malasigi membuktikan bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Sebab ketika alam dirawat dengan cinta, air bersih mengalir, kehidupan bertumbuh dan masa depan generasi Papua tetap terjaga, foto: Irianti/Balleonews

Masyarakat mendapatkan air bersih, sementara penggunaan bahan bakar fosil dapat dikurangi. Sebuah pendekatan yang berangkat dari persoalan lokal dan justru karena berangkat dari persoalan lokal, solusi itu terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Hydro B-Leaf Filter kemudian memperoleh sertifikat paten sederhana dengan nomor IDS000008483. Inovasi tersebut disebut sebagai pengolahan air berbahan dasar pelepah pisang yang melibatkan masyarakat adat. Namun yang paling penting bukan sekedar sertifikat paten, yang lebih berarti adalah apa yang terjadi setelah filter itu dipasang.

Air sungai yang dahulu keruh mulai dapat diolah, masyarakat mulai memiliki akses air bersih dan pengetahuan mengenai pengelolaan sistem tersebut perlahan berpindah ke tangan masyarakat sendiri. Setiap dua minggu pelepah pisang diganti, bak penampungan dibersihkan dan masyarakat terlibat langsung dalam menjaga sistem agar tetap berjalan. Disitulah teknologi berhenti menjadi benda, ia berubah menjadi pengetahuan dan kebiasaan serta akhirnya menjadi bagian dari kehidupan.

Malasigi berada sekitar 55 kilometer dari pusat Kota Sorong dan membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam perjalanan darat, tergantung kondisi akses jalan. Jarak itu membuat Malasigi terasa jauh, tetapi justru dibalik keterisolasian tersebut tersimpan kekayaan alam yang luar biasa. Hutan di sekitar kampung menyimpan berbagai jenis flora dan fauna khas Papua, seperti burung Cenderawasih, Mambruk, Kasuari, Kakatua, Nuri dan berbagai jenis satwa dan tumbuhan yang menjadi bagian dari ekosistem hutan adat.

Bagi masyarakat Malasigi, burung-burung tersebut bukan sekedar objek wisata. Ada hubungan budaya yang lebih dalam. “Kalau burung cenderawasih, kakatua dan nuri itu kami memang jaga dari dulu. Karena kami orang papua tidak bisa makan burung cenderawasih, pamali itu burung surga,” tegas Bapak Kampung sekaligus Ketua LPHD Malasigi Manase Fami.

Kalimat itu menunjukkan bahwa konservasi di Malasigi tidak sepenuhnya lahir dari konsep modern, sebagian telah hidup dalam nilai adat. Yang kemudian dilakukan adalah memperkuat nilai tersebut dengan pengetahuan, kelembagaan dan peluang ekonomi baru. Menase mengingat bagaimana semuanya bermula. Dahulu, kehidupan masyarakat sangat sederhana, berburu dan berkebun adalah aktivitas sehari-hari.

“Dari awal kami masyarakat cuma tahu saja berburu dan berkebun. Itu aktivitas sehari-hari yang kami lakukan,” kata Menase.

Namun kehidupan mulai berubah ketika masyarakat melihat bahwa hutan juga dapat memberikan penghidupan melalui ekowisata. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, ada proses panjang, pembelajaran, keraguan bahkan ada perdebatan. Ketika gagasan Perhutanan Sosial pertama kali datang, masyarakat sempat khawatir. Mereka takut tanah adat akan diambil, kekhawatiran itu lahir bukan tanpa alasan. Menurut Menase, sebelumnya banyak pihak datang ke kampung mengambil data, kemudian pergi.

Masyarakatlah yang tetap tinggal dan menghadapi konsekuensinya. Karena itu, kepercayaan tidak datang dengan mudah. Namun setelah proses berjalan, masyarakat akhirnya menerima SK Perhutanan Sosial dengan luas sekitar 1750 hektare. Wilayah itu kemudian dibagi menjadi dua zona, yakni zona pemanfaatan dan zona lindung. Zona pemanfaatan menjadi ruang bagi aktivitas masyarakat seperti berkebun dan berburu secara terkelola, sementara zona lindung diarahkan untuk konservasi dan wisata. Bagi masyarakat, pembagian tersebut menjadi titik penting. Mereka tidak harus meninggalkan hutan untuk memperoleh penghasilan. Sebaliknya, mereka justru memiliki alasan ekonomi untuk menjaga hutan.

Di Kampung Adat Malasigi, sebatang pelepah pisang bukan sekedar bagian dari tanaman. Tetapi menjadi simbol inovasi, kepedulian dan harapan bagi masyarakat. Melalui teknologi Hydro B-Leaf Filter, limbah pelepah pisang diolah menjadi penyaring air yang membantu menghadirkan air bersih bagi warga, foto: Irianti/Balleonews

Sulit membayangkan kondisi Malasigi ketika ekowisata belum berkembang. Menurut Menase, dahulu hanya ada dua rumah yang digunakan dalam kegiatan awal. Di depan jalan, masyarakat memasang terpal dan genset digunakan untuk mendukung kegiatan. Jika ada pelatihan atau kegiatan di Kota Sorong, masyarakat pergi belajar dan kemudian kembali ke kampung melanjutkan aktivitas. Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada infrastruktur lengkap, bahkan sebagian pembangunan dilakukan secara swadaya.

Masyarakat mencari uang dari hasil berburu rusa, hasil penjualan kemudian disimpan oleh bendahara kelompok. Ketika ada sesuatu yang harus dibangun, uang itulah yang digunakan. Toilet umum dibangun dan kantor mulai dimanfaatkan. Perlahan, tempat yang sebelumnya sederhana mulai menjadi ruang untuk menerima tamu.

Kemudian satu persatu pihak datang, ada lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, kelompok pariwisata, himpunan pramuwisata dan PT Pertamina EP Papua Field. Kolaborasi itu memperluas kemampuan masyarakat.

Bagi masyarakat Malasigi, penghargaan bukan akhir. Ia justru menjadi tanggung jawab baru. Sebab semakin dikenal sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kualitas alam, budaya, pelayanan dan keterlibatan masyarakat. Ada satu bagian dari perubahan itu yang sering kali tidak terlihat dalam laporan program, yakni anak-anak.

Menase mengatakan, perkembangan wisata membawa harapan baru bagi pendidikan keluarga.

“Dengan adanya wisata disini, maka ekonomi masyarakat di kampung Malasigi bisa meningkat dan bisa menambah kami punya kekuarangan,” kata Menase.

Dibalik perubahan Malasigi, terdapat nama-nama yang bekerja dalam senyap. Salah satunya Dominggus Absalom Kalami. Lahir di Sorong pada 1986, pemuda Suku Moi Kelim ini menjadi salah satu penggerak Pokdarwis Belempe dibawah LPHD Belempe. Bagi Dominggus, menjaga hutan bukan hanya tentang melarang orang menebang pohon.

Lebih dari itu, masyarakat harus memiliki pilihan. Pilihan untuk memperoleh penghasilan tanpa menghancurkan sumber kehidupan. Melalui Pokdarwis Belempe, masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan ekowisata. Ada homestay, jalur trekking, pusat informasi, pemanduan wisata, pengamatan burung dan berbagai aktivitas yang memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan hutan.

Dominggus juga menjadi penghubung antara masyarakat dengan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah, Perguruan Tinggi, Lembaga Konservasi hingga Pertamina. Selain Dominggus, ada juga Edison Fami. Pemuda asli Papua yang juga bergabung dalam Pokdarwis Belempe.

Edison mengambil bagian dalam pengelolaan fasilitas, termasuk pengelolaan air bersih dan pengembangan ekowisata. Keduanya tidak hanya berbicara tentang konservasi, mereka mengajarkan bagaimana konservasi dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana masyarakat dapat menjadi pelaku, bukan sekedar penerima program.

Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi menjelaskan, program Matahati Malasigi sejak awal tidak dirancang untuk membuat masyarakat bergantung kepada perusahaan. Justru sebaliknya, program ini diproyeksikan agar masyarakat pada akhirnya mampu berdiri sendiri. Program tersebut mulai diinisiasi pada 2022 dan dilaksanakan secara bertahap pada 2023, 2024 hingga 2025. Tahun 2026 menjadi fase menuju kemandirian.

Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi, foto: Irianti/Balleonews

“Target akhir, mereka bisa berdiri sendiri,” ujar Ardi, Senin (27/7/2026).

Nama Matahati sendiri, kata Ardi, memiliki makna. Malasigi pada awalnya merupakan kampung perintis, masih banyak hal yang belum tersedia dan masih banyak yang harus dibangun. Karena itu, program tersebut diharapkan menjadi ‘mata hati’ yang membuat potensi kampung dapat terlihat, tumbuh dan menghasilkan. Bukan membuat masyarakat berpangku tangan, tetapi membuat masyarakat semakin produktif.

Secara sepintas, pengolahan air bersih dan pengembangan ekowisata memang terlihat jauh dari bisnis utama perusahaan minyak dan gas bumi. Namun bagi Pertamina EP Papua Field, program pemberdayaan masyarakat memiliki keterkaitan dengan keberadaan perusahaan di sekitar wilayah operasi. Di sekitar Malasigi terdapat sumur eksplorasi Kembo yang direncanakan memasuki tahap produksi. Malasigi merupakan kampung yang berada paling dekat dengan wilayah tersebut, meski akses menuju kampung membuat jarak terasa lebih jauh.

Karena itu, membangun hubungan dengan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan operasi. Namun Ardi menekankan, bahwa pendekatan tersebut bukan sekedar soal hubungan perusahaan dengan masyarakat. Ada persoalan yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat dari wilayahnya tanpa kehilangan hutan.

Jika hutan mengalami alih fungsi secara tidak terkendali, dampaknya bukan hanya kepada masyarakat. Ekosistem ikut berubah, air terpengaruh, satwa kehilangan habitat dan pada akhirnya kehidupan masyarakat sendiri yang terdampak. Karena itu, pemberdayaan masyarakat dan konservasi ditempatkan sebagai satu kesatuan.

Perubahan paling besar di Malasigi mungkin bukan terletak pada bangunan. Bukan pula pada filter air, melainkan pada cara masyarakat melihat masa depan. Dahulu, hutan lebih banyak dilihat sebagai sumber kebutuhan hidup. Kini, hutan juga dilihat sebagai aset yang harus dijaga karena memiliki nilai ekonomi jangka panjang. Ekowisata memberi masyarakat alasan baru untuk mempertahankan pepohonan tetap berdiri. Burung tetap berada di habitatnya, sungai tetap mengalir, budaya tetap hidup dan wisatawan datang untuk melihat semuanya.

Malasigi kemudian mendapat pengakuan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, dengan meraih juara pertama kategori desa wisata rintisan. Pengakuan itu menjadi salah satu tonggak perjalanan masyarakat.

Bagi sebuah keluarga, tambahan pendapatan bukan sekedar angka. Ia bisa berarti uang sekolah, buku, seragam, kebutuhan rumah atau sekedar kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus terus menerus mengambil hasil hutan. Karena itu, ketika masyarakat berbicara mengenai ekowisata, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang masa depan anak-anak mereka. Tentang apakah generasi berikutnya masih dapat melihat hutan yang sama, tentang apakah mereka dapat hidup dari kampung sendiri dan tentang apakah anak-anak Malasigi kelak harus pergi jauh hanya karena kampungnya tidak memberikan cukup peluang.

Kini, Malasigi memasuki fase baru. Pertamina EP Papua Field menyebutnya sebagai fase kemandirian. LPHD Belempe telah dibentuk, Pokdarwis telah berjalan, fasilitas wisata tersedia, air bersih mengalir dan PLTS beroperasi. Wisatawan mulai berdatangan, namun perjalanan belum selesai.

Ardi menyadari masih ada sejumlah komponen yang harus diperkuat, terutama promosi dan pengembangan kapasitas. Karena itu, meski program memasuki exit strategy, pendampingan tidak serta merta berhenti. Pertamina masih akan mendukung melalui promosi, kegiatan pameran, serta penguatan kapasitas yang dibutuhkan masyarakat.
Tujuannya bukan agar Malasigi terus bergantung. Justru agar ketika pendampingan dikurangi, masyarakat telah memiliki kemampuan untuk mengambil alih. Seperti seorang anak yang perlahan belajar berjalan, tangan yang sebelumnya memegang harus dilepaskan. Tetapi bukan berarti anak itu ditinggalkan.

Ada mimpi yang lebih besar dibalik semua itu. Ardi melihat Malasigi dapat menjadi salah satu destinasi wisata di Papua Barat Daya selain Raja Ampat. Selama ini, di Sorong lebih sering menjadi pintu masuk wisatawan menuju Raja Ampat. Wisatawan datang, menginap sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan. Ketika perjalanan selesai, mereka kembali ke Sorong dan pulang.

Malasigi menawarkan kemungkinan berbeda, bagaimana jika wisatawan tinggal satu atau dua hari lebih lama? Bagaimana jika mereka tidak hanya melihat laut Raja Ampat, tetapi juga merasakan kehidupan masyarakat adat, berjalan di hutan, melihat cenderawasih, menikmati sumber air panas, mengenal kerajinan noken dan mendengar cerita masyarakat Moi?

Jika itu terjadi, manfaat ekonomi tidak berhenti di satu kampung. Penginapan tumbuh, pemandu wisata mendapatkan pekerjaan, transportasi bergerak, produk lokal memiliki pasar, kuliner berkembang, kerajinan mendapat pembeli dan Kota Sorong sendiri dapat memperoleh manfaat dari wisatawan yang tinggal lebih lama. Sebuah efek domino yang berawal dari sebuah kampung kecil di tengah hutan.

Pada akhirnya, kisah Malasigi bukan cerita tentang bagaimana sebuah perusahaan memberikan bantuan kepada masyarakat. Cerita ini lebih besar dari itu, ia adalah kisah tentang sebuah masyarakat adat yang perlahan menemukan kembali kekuatan yang selama ini mereka miliki. Hutan, budaya, pengetahuan lokal, gotong royong dan kemampuan untuk bertahan.

Teknologi kemudian datang sebagai alat, Hydro B-Leaf Filter membawa air bersih dan ekowisata membuka peluang ekonomi. Kelembagaan memberi ruang bagi masyarakat untuk mengelola semuanya secara mandiri, tetapi jantung dari perubahan itu tetap berada pada manusia. Pada masyarakat Malasigi, pada orang-orang yang setiap hari menjaga hutan, pada mereka yang mengganti filter pelepah pisang, pada pemuda yang membawa wisatawan menyusuri hutan, pada masyarakat yang menjaga burung-burung endemik, pada para orangtua adat yang memastikan nilai budaya tetap hidup dan pada anak-anak yang kini dapat membayangkan masa depan tanpa harus meninggalkan kampungnya.

“Puji Tuhan sampai hari ini kami dapat bantuan dari teman-teman Pertamina, sehingga kami bisa menikmati air bersih,” ungkap warga yang tinggal di Kampung Malasigi.

Kalimat itu bukan sekedar ucapan terima kasih, didalamnya ada perjalanan panjang. Dari air sungai menuju air bersih, dari berburu sebagai mata pencaharian utama menuju jasa ekowisata, dari kampung yang hanya dikenal karena sumber air panas menuju desa wisata yang mulai dikenal lebih luas dan dari ketergantungan menuju kemandirian.

Malasigi masih terus berjuang, sebab menjaga hutan bukan pekerjaan satu tahun. Menjaga budaya bukan pekerjaan satu generasi dan membangun masa depan tidak pernah selesai dalam satu program. Namun selama air masih mengalir, matahari masih terbit, burung-burung masih terbang diantara pepohonan dan masyarakat masih memandang tanah sebagai ‘Bapak dengan Mama’, harapan itu akan tetap hidup. Di Malasigi, hutan tidak hanya sedang dijaga. Hutan sedang diwariskan dan dari sanalah, sebuah kampung adat sedang menulis masa depannya sendiri.

Writer: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *