JAKARTA — Hutan bagi masyarakat Kampung Adat Malasigi bukan sekadar hamparan pepohonan yang berdiri di antara pegunungan Papua. Di dalamnya ada kehidupan, identitas, sumber penghidupan, sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga.
Semangat itulah yang kemudian tumbuh melalui program Mata Hati Malasigi (Masyarakat Adat Pengelola Hutan Lestari di Kampung Adat Malasigi) yang dikembangkan PT Pertamina EP (PEP) Zona 14 Papua Field, bagian dari Regional 4 Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina.
Program tersebut kembali mendapat pengakuan. PEP Papua Field meraih penghargaan Gold pada ajang CSR & PDB (Pengembangan Desa Berkelanjutan) Awards 2026 yang digelar Senin (28/9/2026) di Operational Room Gedung Utama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta Selatan.
Ajang tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Desa dan PDT bersama Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF). Penghargaan Gold menjadi apresiasi terhadap upaya PEP Papua Field dalam membangun program pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada bantuan, tetapi mendorong masyarakat adat menjadi aktor utama dalam menjaga hutan, mengembangkan potensi ekonomi, serta membangun kemandirian desa.
Program Mata Hati Malasigi dikembangkan di Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Di wilayah yang masih menyimpan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tersebut, masyarakat adat Moi Kelim memiliki hubungan yang erat dengan hutan. Hutan bukan hanya tempat mencari penghidupan, tetapi juga bagian dari ruang hidup dan identitas mereka. Karena itu, pendekatan program diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Melalui Mata Hati Malasigi, berbagai potensi lokal dikembangkan secara bertahap dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Salah satu fondasinya adalah penguatan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe, yang berperan dalam mendukung pengelolaan Hutan Desa Malasigi. Kelembagaan masyarakat tersebut menjadi bagian penting agar pengelolaan sumber daya tidak berhenti pada intervensi pihak luar, tetapi perlahan tumbuh menjadi kemampuan masyarakat sendiri.
Potensi alam Malasigi kemudian dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan. Program mendorong pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pengembangan ekowisata, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi alam dan budaya yang mereka miliki. Kawasan hutan yang masih terjaga, keberadaan berbagai jenis satwa, sumber air, serta lanskap alam menjadi modal penting untuk dikembangkan.
Namun, pemanfaatannya tidak diarahkan untuk mengeksploitasi alam. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk melihat hutan sebagai aset yang harus dijaga agar dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Dengan pendekatan tersebut, konservasi tidak ditempatkan berseberangan dengan kesejahteraan masyarakat. Keduanya justru dipertemukan dalam satu tujuan yakni hutan tetap lestari, masyarakat semakin berdaya.

Mata Hati Malasigi juga menjangkau kebutuhan dasar masyarakat melalui pengembangan energi terbarukan dan akses air bersih. Teknologi yang dikembangkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lokal. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga didorong untuk memiliki kemampuan dalam mengelola sarana yang telah dibangun. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu kekuatan program. PEP Papua Field berupaya memastikan pemberdayaan tidak berhenti ketika bantuan diberikan, tetapi berlanjut menjadi proses peningkatan kapasitas dan kemandirian. Masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama, sementara perusahaan hadir sebagai mitra yang mendukung proses tersebut.
Field Manager PEP Papua Field, Ardi, mengatakan penghargaan Gold tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap proses yang telah dibangun bersama masyarakat Kampung Adat Malasigi. Menurutnya, penghargaan bukan menjadi tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.
“Penghargaan Gold pada CSR & PDB Awards 2026 menjadi apresiasi atas proses yang telah kami lakukan bersama masyarakat Kampung Adat Malasigi. Bagi kami, yang paling penting adalah bagaimana program ini dapat memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengelola potensi wilayahnya sendiri, menjaga hutan, serta mengembangkan sumber penghidupan yang berkelanjutan,” ungkap Ardi.
Ia menambahkan, capaian tersebut menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. “Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat kolaborasi bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan,” lanjutnya.
Mata Hati Malasigi merupakan bagian dari komitmen PEP Papua Field dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Semangat tersebut terangkum dalam prinsip “Hak Ulayat Terjaga, Masyarakat Sejahtera.” Prinsip ini menempatkan keberadaan masyarakat adat dan hak ulayat sebagai bagian penting dalam pembangunan.
Sebab, pembangunan desa berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat menjaga identitas, lingkungan, dan sumber kehidupan mereka. Penghargaan Gold CSR & PDB Awards 2026 pun menjadi penanda bahwa proses pemberdayaan yang dibangun bersama masyarakat Malasigi mendapat apresiasi di tingkat nasional.
Lebih dari sekadar sebuah penghargaan, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa ketika masyarakat diberikan ruang, kapasitas, dan kepercayaan untuk mengelola potensi wilayahnya sendiri, hutan dapat tetap berdiri sebagai penjaga kehidupan sekaligus membuka jalan menuju kesejahteraan.
Dari Malasigi, pesan itu tumbuh sederhana: menjaga hutan bukan berarti meninggalkan kesejahteraan. Justru dengan menjaga hutan, masyarakat sedang menjaga masa depan mereka sendiri. (*)













