Berita  

Warga Kabupaten Sorong Keluhkan Air Bersih Justru Semakin Langka Usai Dikuasai Pemkab Sorong

SORONG – Kebutuhan paling mendasar warga kini justru menjadi kemewahan yang sulit didapatkan. Warga di Jalan Wortel, Kelurahan Malasom Unit 2, Kabupaten Sorong, meledakkan kekesalan lantaran pelayanan air bersih yang kini nyaris lumpuh. Air yang dulunya mengalir lancar, kini baru muncul setelah empat hingga lima hari sekali pun hanya bertahan sesaat, tak sampai satu jam pun kembali mati!

Warga pun terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi membeli air dari mobil tangki setiap harinya, hanya untuk mencukupi kebutuhan minum, mandi, dan mencuci.

Salah seorang warga, Ruslan, tak menyembunyikan kekesalannya. Ia membandingkan tajam pelayanan yang kini dipegang pemerintah dengan masa ketika masih dikelola pihak swasta. Dulu, air lancar merata ke seluruh penjuru. Sekarang? Warga tak tahu harus menghubungi siapa ketika air mati!

“Dulu kalau ada gangguan, kami telepon dan petugas datang memperbaiki. Sekarang katanya sudah dikelola Dinas PUPR, tapi kami tak tahu harus menghubungi siapa. Air baru mengalir empat atau lima hari sekali, itu pun cuma satu jam lalu mati lagi. Mandi saja susah, apalagi mencuci. Kami terpaksa beli air tangki demi bertahan hidup,” keluh Ruslan dengan nada tak habis pikir.

Warga merindukan masa tiga tahun silam, di mana air mengalir deras tanpa putus. Kini setelah pengelolaan beralih ke tangan pemerintah, justru kemunduran yang dirasakan rakyat.

Menanggapi gelombang keluhan yang tak kunjung reda, Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sorong Frans Howay mengakui, pelayanan memang belum seperti yang diharapkan. Kendala utama tak lain adalah keterbatasan anggaran yang membebani upaya pembenahan seluruh jaringan pipa tua yang bocor dan rusak di mana-mana.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sorong Frans Howay, foto: Yanti/Balleonews

Belum lagi laju pertumbuhan permukiman yang melesat pesat membuat pasokan air yang ada kian terbagi-bagi. Air yang dulu cukup untuk melayani sejumlah warga, kini tak lagi mampu menjangkau kawasan yang makin luas dan jauh. Ditambah lagi cuaca panas yang memanjang membuat debit air makin menyusut hingga aliran tak mampu menjangkau wilayah ujung.

Sementara solusi yang bisa dilakukan saat ini pun masih sangat terbata, pemerintah terpaksa membagi waktu giliran pengaliran air. Namun sistem giliran ini pun menuai keluhan lantaran banyak warga yang justru sedang bekerja di luar rumah saat air tiba, sehingga pulang ke rumah dalam keadaan kering kerontang tanpa setetes air pun tertampung.

Meski demikian, Frans tak berdiam diri. Pemerintah berjanji akan membangun dua sumur bor baru serta mengadakan mesin pendorong air tambahan demi menambah pasokan air bagi kawasan Malasom dan sekitarnya. Di samping itu, pengelolaan air bersih juga sedang disiapkan agar statusnya segera naik menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sehingga pelayanannya kelak dapat dikelola secara lebih profesional dan melibatkan pihak yang berpengalaman. Namun semua itu tak bisa diwujudkan dalam semalam, masih banyak tahapan yang harus dilalui.

Di tengah antrean panjang menuju perbaikan, warga tetap menanti dengan penuh harap. Air bersih adalah hak setiap warga negara, bukan kemewahan yang harus dibeli mahal atau ditunggu berhari-hari. Tantangan berat kini berada di pundak pemerintah Kabupaten Sorong, mampukah melampaui pelayanan yang dulu diberikan pihak swasta, atau justru semakin tertinggal di belakang? Rakyat sudah menunggu terlalu lama, dan kesabaran pun perlahan menipis.

Writer: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *