Di pedalaman dan di tengah rimbunnya hutan Kabupaten Sorong, masyarakat adat Suku Moi Kelim perlahan menata kehidupan baru dan menjemput perubahan. Dari malam yang dahulu hanya diterangi pelita sampai hadirnya listrik 24 jam, hingga harapan menjadikan hutan sebagai sumber kesejahteraan. Melalui Program Matahati Malasigi, mereka belajar bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan meninggalkan warisan leluhur dan mendorong perubahan tanpa meminta masyarakat meninggalkan akar tradisi mereka.
Pagi belum sepenuhnya terbangun dan merekah ketika kabut masih memeluk pepohonan di Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Embun menggantung di ujung dedaunan, udara dingin meresap perlahan ke kulit. Dari balik rimbunnya hutan, suara burung terdengar bersahutan seolah menyambut hari baru yang datang tanpa tergesa-gesa.
Di tempat ini, hutan bukan sekedar kumpulan pohon yang berdiri rapat dan kehidupan berjalan dengan iramanya sendiri. Tidak ada hiruk pikuk kendaraan yang memecah pagi, tidak ada gedung-gedung tinggi yang menutupi cakrawala. Yang ada hanyalah pepohonan, aliran air, tanah yang diwariskan leluhur dan masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan kehidupan pada kemurahan alam.
Bagi masyarakat adat Suku Moi Kelim, hutan bukan sekedar hamparan hijau yang dapat dipandang dari kejauhan. Hutan adalah rumah, tempat mereka berkebun, mencari makan, mengenali jejak kehidupan dan mewariskan pengetahuan kepada anak-anak mereka. Di dalam hutan tersimpan cerita tentang leluhur. Di tanah yang mereka pijak, ada sejarah keluarga. Di aliran air yang menghidupi kampung, ada harapan agar kehidupan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ketika masyarakat Malasigi berbicara tentang hutan, sesungguhnya mereka sedang berbicara tentang diri mereka sendiri. Tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal dan apa yang harus mereka jaga agar anak cucu mereka kelak tidak kehilangan tempat untuk pulang. Namun mencintai alam tidak serta merta membuat kehidupan menjadi mudah. Ada masa ketika malam di Malasigi terasa begitu panjang. Saat matahari tenggelam dibalik pepohonan, kegelapan perlahan menyelimuti rumah-rumah warga. Pelita dan obor menjadi teman untuk menerangi malam.
Sesuatu yang bagi masyarakat perkotaan mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi warga di pedalaman merupakan bagian dari perjuangan hidup yang berlangsung setiap hari. Listrik belum dapat dinikmati sepanjang waktu. Keterbatasan fasilitas membuat aktivitas masyarakat harus menyesuaikan diri dengan keadaan, berburu dan berkebun menjadi bagian dari kehidupan yang diwariskan turun temurun.
Mereka hidup dekat dengan kekayaan alam, tetapi untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, jalan yang harus ditempuh tidak selalu mudah. Disanalah pertanyaan tentang masa depan mulai menemukan maknanya. Bagaimana masyarakat adat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik tanpa kehilangan adat istiadatnya? Bagaimana anak-anak mereka dapat tumbuh dengan kesempatan yang lebih luas, sementara hutan yang menjadi warisan leluhur tetap terjaga?
Pertanyaan itu tidak dijawab dengan meninggalkan Malasigi, tidak pula dengan mengubah kampung adat menjadi sesuatu yang menyerupai kota. Perubahan justru mulai dicari dari dalam kehidupan masyarakat sendiri, melalui pendampingan, kerja bersama dan upaya menemukan jalan yang menghormati manusia sekaligus alam. Perjalanan itu kemudian menjadi bagian dari cerita Matahati Malasigi.
Menase Fami, Bapak Kampung sekaligus Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Malasigi, adalah salah satu orang yang menyimpan ingatan tentang beratnya perjalanan masyarakat membangun kampung mereka. Ketika mengenang masa-masa awal itu, ia tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan keadaan yang pernah mereka hadapi.
“Dari awalnya itu memang setengah mati,” tutur Menase saat dikunjungi awak media, Senin (27/7/2026).
Kalimat pendek itu terasa menyimpan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada yang terdengar. Didalamnya ada perjuangan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup, ada keterbatasan yang harus diterima setiap hari, ada usaha untuk tetap bertahan di tengah kondisi geografis yang tidak selalu bersahabat.
Malasigi berada sekitar 55 kilometer dari Kota Sorong. Perjalanan darat menuju kampung ini membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam, bergantung pada kondisi jalan. Bagi orang yang terbiasa hidup di perkotaan, jarak tersebut mungkin hanya berarti perjalanan beberapa jam. Namun bagi masyarakat pedalaman, jarak dapat menentukan betapa mudah atau sulitnya kebutuhan sehari-hari dipenuhi, seberapa luas kesempatan ekonomi terbuka dan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menjangkau dunia di luar kampung.
Salah satu kebutuhan yang paling membekas dalam ingatan Menase adalah listrik. Dahulu ketika malam tiba, pelita dan obor menjadi sumber penerangan. Minyak tanah harus tersedia agar rumah tidak sepenuhnya tenggelam dalam gelap. Menurut Menase, pengeluaran untuk minyak tanah pada masa itu dapat mencapai sekitar Rp 5.000.000 hingga Rp 6.000.000 setiap bulan.
Angka itu bukan sekedar catatan pengeluaran. Bagi masyarakat yang hidup dengan segala keterbatasan akses, kebutuhan untuk mendapatkan cahaya ternyata dapat menjadi beban yang begitu besar.
Bayangkan sebuah kampung yang dikelilingi hutan, tetapi ketika malam datang, warganya harus berjuang menyediakan penerangan untuk rumah sendiri. Bayangkan pula bagaimana anak-anak belajar, keluarga beristirahat dan masyarakat mempersiapkan aktivitas esok hari ketika cahaya harus selalu diperhitungkan. Kini, sebagian pengalaman itu perlahan menjadi cerita masa lalu.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas sekitar 8700 watt hadir sebagai salah satu penopang perubahan di Malasigi. Energi matahari dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan penerangan masyarakat. Menase menyebut, listrik kini dapat dinikmati selama 24 jam.
“Sekarang lampu 24 jam sampai hari ini,” kata Menase.
Sederhana sekali kalimat itu. Namun bagi seseorang yang pernah menghabiskan malam dengan mengandalkan pelita dan obor, cahaya yang terus menyala memiliki arti yang tidak sederhana. Ada kelegaan ketika malam tidak lagi selalu identik dengan kegelapan, ada kesempatan untuk melakukan aktivitas tanpa sepenuhnya bergantung pada terang matahari dan ada ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menata kegiatan sehari-hari.
Bagi keluarga di Malasigi, listrik bukan hanya persoalan teknologi. Ia menyentuh kehidupan yang paling dekat, rumah, anak-anak, pekerjaan dan harapan. Barangkali bagi sebagian orang, lampu yang menyala sepanjang malam adalah sesuatu yang biasa dan sesuatu yang bahkan jarang disadari karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di Malasigi, cahaya itu membawa ingatan tentang perjalanan panjang.
Tentang masa ketika penerangan harus diperjuangkan, ketika kebutuhan dasar menuntut pengorbanan dan ketika perubahan terasa begitu jauh untuk dijangkau. Kini, cahaya itu hadir sebagai tanda bahwa kehidupan dapat bergerak menuju keadaan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan kampung yang mereka cintai.
Sebab bagi mereka yang pernah hidup dalam gelap, cahaya bukan sekedar sesuatu yang menerangi rumah. Cahaya adalah kesempatan untuk membayangkan hari esok dengan harapan yang lebih luas. Namun dibalik perubahan yang perlahan hadir, ada sesuatu yang tidak ingin dilepaskan masyarakat Malasigi. Yaitu hubungan mereka dengan tanah dan hutan.
Bagi sebagian orang, tanah mungkin dipandang sebagai aset. Hutan dapat dihitung berdasarkan luas wilayah dan jumlah pohon atau nilai ekonomi yang bisa dihasilkan. Bagi masyarakat adat Suku Moi Kelim, cara memandang alam tidak sesederhana itu.
Menase Fami mengungkapkan, sebuah ungkapan yang memperlihatkan betapa dekatnya hubungan masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.
“Tanah ini sebagai bapak dengan mama,” ujarnya.
Ungkapan itu seolah menjelaskan seluruh hubungan yang tidak selalu dapat diterangkan dengan angka. Tanah adalah tempat mereka berdiri, tempat rumah dibangun, kebun diusahakan dan kehidupan keluarga berlangsung. Hutan menyediakan berbagai kebutuhan, sementara air menopang kehidupan dari hari ke hari. Semua itu bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia. Alam adalah bagian dari keluarga besar yang membesarkan mereka.
Jika tanah diibaratkan sebagai bapak dan mama, maka merawatnya bukan sekedar kewajiban terhadap lingkungan. Ia menjadi tanggung jawab yang lahir dari rasa hormat, kedekatan dan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Dari hutan, masyarakat memperoleh penghidupan. Dari hutan pula, mereka belajar tentang keseimbangan. Apa yang diambil harus dipahami batasnya, apa yang diwariskan harus dijaga agar tidak habis sebelum generasi berikutnya sempat menikmatinya.
Karena itu, menjaga hutan di Malasigi bukan semata-mata tentang mempertahankan pepohonan agar tetap berdiri. Ini adalah tentang menjaga sumber air, ruang hidup satwa, pengetahuan leluhur dan masa depan anak-anak mereka. Ada tanggung jawab yang melekat pada setiap jengkal tanah adat, tanggung jawab yang tidak selalu dapat diukur melalui nilai rupiah.
Sebab ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang ikut terancam adalah sumber penghidupan, keseimbangan lingkungan dan hubungan antar generasi yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Masyarakat Malasigi memahami bahwa mereka membutuhkan kehidupan yang lebih baik. Namun mereka juga menyadari bahwa kesejahteraan yang dibangun dengan menghancurkan sumber kehidupan sendiri, bukanlah masa depan yang ingin diwariskan. Diantara dua kebutuhan itulah perjalanan mereka menemukan arah.
Upaya mempertemukan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu dasar pengembangan Program Matahati Malasigi, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat adat yang dikembangkan PT Pertamina EP Papua Filed melalui pendekatan pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata. Program ini membawa sebuah gagasan penting, yaitu hutan yang terjaga tidak harus dipisahkan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebaliknya, kelestarian hutan dapat menjadi kekuatan bagi kehidupan warga apabila dikelola dengan tepat, melibatkan masyarakat setempat dan menghormati nilai-nilai adat yang berlaku. Hutan tidak harus dirusak agar menghasilkan manfaat ekonomi. Keindahan alam, keanekaragaman hayati, sungai, gua, serta kekayaan budaya dapat menjadi daya tarik bagi orang-orang yang ingin mengenal Malasigi lebih dekat. Dengan pendekatan ekowisata, masyarakat memiliki peluang untuk memperkenalkan kampung mereka kepada dunia luar tanpa harus kehilangan kendali atas identitas dan ruang hidupnya.

Namun ekowisata bukan sekedar mendatangkan pengunjung. Lebih dari itu, ekowisata menuntut tanggung jawab. Hutan harus tetap terlindungi, kehidupan masyarakat harus dihormati, adat istiadat tidak boleh sekedar dijadikan tontonan, melainkan perlu dipahami sebagai bagian dari identitas yang memiliki nilai dan batas-batas yang harus dijaga. Masyarakat bukan hanya pelengkap dalam sebuah kegiatan wisata. Mereka adalah pemilik pengetahuan tentang wilayahnya, penjaga tradisi, sekaligus pihak yang paling berkepentingan terhadap keberlanjutan hutan.
Karena itu, pengembangan Malasigi membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah pengelolaan kampung, menjaga kawasan hutan, menerima pengunjung dan memastikan manfaat yang muncul dapat dirasakan secara berkelanjutan. Disinilah pemberdayaan menemukan maknanya. Bukan sekedar memberikan bantuan lalu meninggalkan masyarakat untuk menghadapi tantangannya sendiri, bukan pula membangun fasilitas yang tampak indah tetapi tidak memberikan kemampuan kepada warga untuk mengelolanya.
Pemberdayaan berarti membantu masyarakat mengenali kekuatan yang telah mereka miliki, kemudian memperluas kesempatan agar kekuatan tersebut dapat menjadi bekal untuk hidup lebih mandiri.
Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi melihat Malasigi memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Kenapa Malasigi? Karena Malasigi ini prospeknya sangat luar biasa,” kata Ardi, Senin (27/7/2026).
Pernyataan itu menjadi salah satu alasan perusahaan mendukung pengembangan kampung tersebut. Bagi Ardi, Malasigi merupakan kampung perintis yang memiliki potensi alam dan budaya, tetapi masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dan membangun kemandirian. Tantangannya bukan hanya menyediakan fasilitas dasar. Yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kemampuan masyarakat, untuk mengelola potensi kampung secara berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan pembangunan tidak seharusnya berhenti pada sesuatu yang terlihat hari ini. Ia perlu memberikan manfaat yang tetap terasa ketika pendampingan berkurang, ketika program memasuki tahap berikutnya dan ketika masyarakat harus menentukan sendiri langkah yang akan diambil. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan terus tinggal di Malasigi. Merekalah yang akan merawat hutan, mengelola potensi wisata, mendidik anak-anak, serta menjaga agar nilai-nilai leluhur tetap hidup ditengah perubahan zaman.
Karena itu, kemandirian menjadi bagian penting dari perjalanan Matahati Malasigi. Hutan yang lestari perlu berjalan beriringan dengan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menjaga dan mengelolanya. Malasigi menyimpan kekayaan alam yang dapat menjadi bagian dari pengalaman ekowisata. Sungai Klaluguk dengan sumber air panasnya, Gua Wo’Batiwala, serta menara pengamatan burung setinggi sekitar delapan meter menjadi bagian dari potensi yang dimiliki kawasan ini.
Disana pengunjung bukan hanya berkesempatan menikmati pemandangan alam, mereka juga dapat mengenal lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat. Namun, keindahan itu sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih dalam. Sungai bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi, ia adalah bagian dari sistem kehidupan yang menyediakan air bagi lingkungan dan masyarakat. Gua bukan sekedar ruang untuk dijelajahi, ia merupakan bagian dari bentang alam yang perlu dipahami dan dijaga.
Burung-burung yang melintas diantara pepohonan bukan sekedar objek untuk difoto, kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa hutan merupakan rumah bagi kehidupan yang jauh lebih luas daripada manusia. Semua potensi tersebut membutuhkan perlindungan. Pengembangan wisata tidak boleh membuat alam kehilangan keseimbangannya. Semakin banyak orang mengenal Malasigi, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa kehadiran pengunjung tidak merusak apa yang membuat kampung itu istimewa.
Disinilah masyarakat adat memiliki peran yang tidak tergantikan. Mereka mengetahui bagaimana hutan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mereka menyimpan pengetahuan tentang lingkungan, memahami nilai-nilai yang diwariskan leluhur dan memiliki hubungan panjang dengan wilayah tempat mereka hidup. Pengetahuan semacam ini tidak selalu ditemukan dalam buku atau laporan. Ia tumbuh dari pengalaman, dari kebiasaan yang diwariskan dan dari kehidupan yang berlangsung dekat dengan alam selama bertahun-tahun.
Melalui pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat, pengetahuan tersebut memiliki kesempatan untuk terus hidup sekaligus menjadi bagian dari pendidikan lingkungan bagi generasi berikutnya. Anak-anak Malasigi dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa hutan bukan sesuatu yang harus ditinggalkan agar mereka bisa maju. Sebaliknya, hutan dapat menjadi alasan untuk belajar, berkarya dan membangun masa depan di tanah sendiri.
Mereka dapat mengenal dunia yang lebih luas tanpa harus kehilangan pengetahuan tentang kampung halaman, mereka dapat memanfaatkan peluang baru tanpa harus menganggap tradisi leluhur sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan mereka dapat memahami bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar kehidupan.
Tentu semua itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Pengembangan ekowisata membutuhkan waktu, keterampilan, kelembagaan yang kuat, akses yang memadai dan pengelolaan yang bertanggung jawab. Manfaat ekonomi pun perlu dibangun secara nyata agar tidak berhenti sebagai harapan. Masyarakat harus memiliki kesempatan untuk terlibat, mengembangkan kemampuan dan merasakan manfaat dari potensi yang mereka jaga. Perjalanan menuju kemandirian masih panjang. Namun harapan itu memiliki pijakan, masyarakat yang mengenal tanahnya sendiri, hutan yang menyimpan kekayaan alam serta keinginan untuk memperbaiki kehidupan tanpa kehilangan identitas.
Kisah Malasigi mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan mengubah seluruh wajah sebuah kampung, ada kalanya pembangunan justru perlu dimulai dengan mendengarkan. Mendengarkan masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan, memahami apa yang mereka butuhkan, menghormati apa yang mereka anggap berharga dan menyadari bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bagi orang luar mungkin memiliki arti yang begitu besar bagi warga setempat.
Listrik yang menyala selama 24 jam misalnya, bukan hanya tentang keberhasilan menghadirkan teknologi energi terbarukan. Dibaliknya ada kebutuhan masyarakat untuk hidup lebih nyaman, mengurangi beban pengeluaran dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk melakukan berbagai kegiatan. Begitu pula dengan pengembangan ekowisata, tujuannya bukan semata-mata membuat Malasigi dikenal sebagai destinasi baru. Yang lebih penting adalah, membuka peluang agar masyarakat dapat memperoleh manfaat dari potensi alam dan budaya yang selama ini mereka jaga.
Pembangunan yang baik tidak semestinya membuat masyarakat merasa asing di tanah sendiri. Mereka harus tetap menjadi bagian utama dari keputusan tentang bagaimana kampung dikembangkan, bagaimana hutan dikelola dan bagaimana manfaat ekonomi dibagikan. Sebab keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari fasilitas yang berdiri atau jumlah kegiatan yang dilaksanakan.
Keberhasilan juga terlihat ketika masyarakat semakin mampu mengelola kehidupan mereka sendiri, ketika sumber penghidupan semakin beragam dan ketika lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang. Malasigi tidak harus menjadi kota kecil untuk disebut maju, ia tidak harus kehilangan kesunyian paginya, suara burungnya atau hubungan masyarakatnya dengan hutan agar dapat disebut berkembang.
Justru kekuatan Malasigi terletak pada sesuatu yang tidak dimiliki semua tempat. Kekayaan alam yang masih menyimpan kehidupan, budaya yang terus diwariskan dan masyarakat yang memandang tanah bukan sekedar tempat tinggal melainkan bagian dari keluarga. Pembangunan seharusnya membantu semua itu bertahan, bukan menghapusnya. Ketika pagi semakin terang, kabut perlahan menghilang dari sela-sela pepohonan. Cahaya matahari menyentuh dedaunan yang masih basah, suara burung kembali terdengar dari balik hutan dan kehidupan kampung bergerak mengikuti kebiasaan yang telah berlangsung sejak lama.
Mungkin dari kejauhan, Malasigi masih terlihat seperti sebuah kampung kecil yang tersembunyi di pedalaman Kabupaten Sorong. Namun dibalik kesederhanaannya, ada perjalanan panjang yang sedang berlangsung. Ada masyarakat yang berjuang agar kebutuhan dasar semakin mudah dipenuhi, ada upaya untuk membuka kesempatan ekonomi tanpa merusak lingkungan. Ada harapan agar anak-anak dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, tetapi tetap mengenal tanah tempat leluhur mereka membangun kehidupan.
Ada Menase Fami yang menyimpan ingatan tentang masa ketika segala sesuatu terasa begitu sulit, tetapi kini dapat menyaksikan perubahan yang perlahan hadir di kampungnya. Ketika ia mengatakan bahwa listrik kini menyala selama 24 jam, mungkin yang terlintas dibenaknya bukan sekedar lampu yang terus hidup. Mungkin ada ingatan tentang malam-malam panjang ketika pelita menjadi satu-satunya andalan. Ada kenangan tentang minyak tanah yang harus dibeli, agar rumah tetap terang. Ada pengalaman tentang betapa beratnya membangun sesuatu ketika fasilitas dan akses masih terbatas.
Kini sebagian dari perjuangan itu telah menemukan jawaban, tetapi perjalanan Malasigi belum selesai. Masih ada pekerjaan untuk memastikan agar potensi ekowisata benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Masih ada tanggung jawab untuk menjaga hutan tetap lestari dan masih ada kebutuhan untuk memperkuat kemampuan warga agar masa depan kampung tidak bergantung selamanya pada bantuan dari luar.
Semua itu membutuhkan waktu, kesabaran dan kerja bersama. Matahati Malasigi menjadi bagian dari perjalanan tersebut, sebuah upaya untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat, pelestarian lingkungan dan harapan agar kampung adat dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Pada akhirnya, mungkin inilah makna terdalam dari perubahan yang sedang tumbuh di Malasigi.
Bahwa masyarakat adat tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi dan memperbaiki kehidupan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama pembangunan menghormati manusia, adat dan alam yang menjadi sumber penghidupan. Sebab tidak ada gunanya sebuah kampung menjadi terkenal jika masyarakatnya kehilangan hubungan dengan tanah yang mereka cintai. Tidak banyak artinya pembangunan menghadirkan fasilitas, jika sumber air mengering dan hutan yang menjadi penyangga kehidupan rusak.
Tidak lengkap rasanya berbicara tentang kesejahteraan, apabila generasi mendatang tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengenal warisan leluhurnya. Malasigi mengajarkan bahwa masa depan bukan hanya tentang apa yang dapat dibangun hari ini, juga tentang apa yang sanggup kita jaga agar tetap ada esok hari.
Di kampung adat itu, hutan masih berdiri. Air masih mengalir, burung-burung masih mencari tempat diantara pepohonan dan masyarakat masih menjalani kehidupan yang terhubung erat dengan tanah warisan leluhur. Kini, cahaya listrik turut menerangi rumah-rumah mereka dan bersama cahaya itu, tumbuh harapan bahwa kehidupan dapat menjadi lebih baik tanpa harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga.
Bahwa anak-anak Malasigi kelak dapat menikmati kesempatan yang lebih luas, tanpa kehilangan pengetahuan tentang hutan yang membesarkan orangtua mereka. Bahwa masyarakat dapat membangun kesejahteraan, tanpa mengubah alam menjadi sesuatu yang hanya dihitung berdasarkan keuntungan. Bahwa ketika dunia semakin bergerak cepat, masih ada tempat yang mengajarkan pentingnya berjalan dengan hati-hati, menghormati masa lalu dan memikirkan kehidupan mereka yang belum lahir. Di pedalaman Kabupaten Sorong, masyarakat adat Suku Moi Kelim sedang menapaki jalan itu. Pelan-pelan, dengan segala keterbatasan dan harapan yang mereka miliki.
Mereka tidak sedang berusaha meninggalkan hutan. Mereka sedang mencari cara agar hutan tetap menjadi rumah, sementara kehidupan didalamnya terus bertumbuh. Sebab bagi masyarakat Malasigi, tanah bukan sekedar tempat berpijak. Hutan bukan sekedar kumpulan pohon dan pembangunan bukan sekedar tentang menghadirkan sesuatu yang baru. Semuanya adalah tentang kehidupan. Tentang bagaimana manusia menjaga apa yang telah diwariskan kepadanya, sembari berusaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi mereka yang akan datang.
Ketika lampu menyala di rumah-rumah Malasigi, harapan memang ikut menerangi malam. Namun harapan yang sesungguhnya adalah ketika hutan tetap berdiri, air terus mengalir, adat tetap hidup dan anak cucu mereka kelak masih dapat berkata dengan bangga “Disinilah tanah leluhur kami, disinilah rumah kami”.
Selama hutan itu tetap dijaga, selama masyarakat masih memelihara ikatan dengan tanahnya, Malasigi akan selalu memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekedar kemajuan. Ia akan memiliki masa depan yang berakar pada warisan leluhur, tumbuh bersama kesejahteraan dan tetap memberi tempat bagi kehidupan.





