Berita  

Matahati Malasigi Menjaga Hutan, Merawat Kehidupan

Matahati Malasigi Menjaga Hutan, Merawat Kehidupan, foto: Irianti/Balleonews

Di tengah hutan adat Suku Moi Kelim, perubahan tidak datang dalam semalam. Ia tumbuh perlahan dari keberanian masyarakat menjaga tanah leluhur, dari suara burung cenderawasih yang kembali ke hutan, dari pelepah pisang yang disulap menjadi penyaring air, dari cahaya matahari yang menghidupkan listrik, hingga dari tangan mama-mama yang menganyam noken untuk membiayai pendidikan anak. Di Kampung Adat Malasigi, pembangunan akhirnya bukan sekedar tentang fasilitas, tetapi tentang bagaimana masyarakat menemukan kembali keyakinan bahwa hutan yang dijaga dapat menjadi sumber kehidupan.

Pagi belum sepenuhnya terang ketika kabut masih menggantung di antara pepohonan. Udara di Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, terasa berbeda. Dingin, lembab dan sunyi. Hanya suara burung yang sesekali memecah kesunyian.

Di tempat seperti inilah masyarakat Suku Moi Kelim menjalani kehidupan mereka. Hutan bukan sekedar hamparan pohon, hutan adalah rumah, hutan adalah kebun, hutan adalah tempat mencari makan, hutan adalah sumber air dan hutan juga adalah bagian dari identitas dan kehidupan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, bertahun-tahun hidup di tengah kekayaan alam tidak selalu berarti hidup dalam kemudahan. Ada masa ketika malam di Malasigi benar-benar berarti gelap, ada masa ketika air yang diminum masyarakat berasal dari sungai yang harus diendapkan terlebih dahulu. Ada masa ketika listrik hanya bisa menyala jika genset dihidupkan dan ada masa ketika sebagian besar masyarakat hanya mengenal dua pekerjaan utama, yakni berburu dan berkebun.

Kini perlahan, wajah Malasigi berubah. Bukan karena hutan mereka diubah menjadi kawasan industri, bukan pula karena kampung itu meninggalkan tradisinya. Justru sebaliknya, mereka mulai menemukan cara untuk menjadikan hutan tetap hidup, sekaligus membuat kehidupan masyarakat ikut bertumbuh.

Di Kampung Adat Malasigi, pembangunan akhirnya bukan sekedar tentang fasilitas, tetapi tentang bagaimana masyarakat menemukan kembali keyakinan bahwa hutan yang dijaga dapat menjadi sumber kehidupan, foto: Irianti/Balleonews

Perubahan itu salah satunya hadir melalui Program Matahati Malasigi, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat adat yang dikembangkan PT Pertamina EP Papua Field dengan pendekatan pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata. Program ini berjalan di tengah kawasan yang menyimpan potensi alam dan budaya luar biasa.

Malasigi berjarak sekitar 55 kilometer dari Kota Sorong dan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat. Jalan menuju kampung tidak selalu mudah, beberapa bagian bahkan membutuhkan kendaraan dengan kemampuan khusus. Namun, justru di balik akses yang menantang itulah tersimpan sebuah cerita besar tentang masyarakat yang sedang belajar mengubah cara hidup tanpa kehilangan jati dirinya.

Menase Fami, Bapak Kampung sekaligus Ketua LPHD Malasigi, masih mengingat masa-masa awal ketika kampung itu mulai dibangun. Ia mengingatnya sebagai masa yang tidak mudah.

“Dari awalnya itu memang setengah mati,” katanya.

Kalimat pendek itu seperti menggambarkan perjalanan panjang yang harus dilewati masyarakat Malasigi. Awalnya, sebuah upacara adat dilakukan, kampung dibuka diatas bukit. Bagi masyarakat Malasigi, pembukaan kampung bukan sekedar seremoni. Ada hubungan antara manusia, alam, leluhur dan aturan adat yang harus dihormati.

Dahulu, Malasigi lebih dikenal karena sumber air panasnya. Ketika keberadaan sumber air panas itu mulai diketahui, Pemerintah Daerah kemudian membuka akses menuju kampung. Namun, untuk menjadikan tempat tersebut sebagai kawasan wisata, ada aturan adat yang tidak boleh dilangkahi.

Air panas itu bukan sekedar objek wisata, ada sejarah dan batas-batas adat yang melekat di dalamnya. Menase mengingat, dahulu tidak semua orang bisa pergi ke sumber air panas tersebut. Ada aturan adat mengenai siapa yang diperbolehkan mengakses kawasan itu. Ketika akhirnya Bapak Adat membuka dan mengizinkan kawasan tersebut menjadi lokasi wisata, sebuah babak baru dimulai.

Sungai Klaluguk yang ada di Kampung Adat Malasigi dengan sumber air panasnya, menjadi salah satu destinasi yang sangat diminati wisatawan, foto: Irianti/Balleonews

Tetapi masyarakat kemudian menyadari satu hal. Malasigi tidak hanya punya air panas, hutannya menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar yakni burung-burung. Salah satu sosok penting dalam perjalanan itu adalah Riki. Ia belajar menjadi pemandu wisata di Malagufuk bersama Absalom dan Mawid. Selama sekitar empat tahun ia belajar tentang bagaimana alam bisa dijadikan bagian dari kegiatan wisata, tanpa harus merusaknya. Setelah kembali ke Malasigi, ia mengajak keluarga dan masyarakat untuk mulai mengembangkan wisata.

Suatu hari, Riki dan anaknya bersama Absalom masuk ke dalam hutan. Mereka melakukan survei burung dan menemukan burung, namun burung-burung itu masih liar. Masyarakat kemudian kembali kepada aturan adat. Menurut mereka, ada sesuatu yang harus dilakukan terlebih dahulu yakni upacara adat. Keluarga Fami dan Komigi kemudian berkumpul, mereka meminta agar burung-burung yang selama ini berada di hutan dapat kembali dan hidup berdampingan dengan masyarakat.

Setahun setelah upacara adat dilakukan, masyarakat mulai melihat perubahan. Burung-burung kembali muncul, spot pengamatan burung pertama berada di atas bukit Kampung Malasigi. Sebuah menara setinggi sekitar delapan meter kemudian dibangun. Dari atas sana, manusia tidak lagi datang untuk mengambil sesuatu dari hutan. Mereka datang untuk melihat, mendengar, mengagumi dan belajar. Itulah awal perubahan cara pandang, hutan yang dahulu menjadi tempat berburu perlahan mulai dipahami sebagai tempat yang juga bisa memberikan penghidupan dengan cara yang berbeda.

Perjalanan menuju Malasigi sebagai kampung wisata tidak langsung mulus. Pada awalnya, fasilitas sangat terbatas. Menase masih ingat bagaimana kegiatan dilakukan di bawah terpal. Hanya beberapa rumah yang tersedia. Ada rumah Bapak Adat, rumah Keluarga Komigi dan rumah Hengki. Disanalah kegiatan dilakukan, genset menjadi sumber listrik.

Tidak ada fasilitas yang memadai, tidak ada sistem pengelolaan seperti sekarang. Bahkan untuk membangun fasilitas dasar, masyarakat harus mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka berburu rusa, hasil penjualan rusa dikumpulkan dan uang itu diserahkan kepada bendahara. Jika ada kebutuhan pembangunan, uang tersebut digunakan. Dari uang hasil swadaya itulah mereka membangun toilet umum dan fasilitas lainnya.

Sebuah bangunan yang awalnya disiapkan sebagai kantor kampung, akhirnya dimanfaatkan sebagai tempat menerima tamu. Sebab tamu semakin sering datang. Sedikit demi sedikit, orang mulai melihat Malasigi. Lembaga swadaya masyarakat datang, perguruan tinggi datang, dinas datang, komunitas datang dan kemudian Pertamina hadir mendampingi.

Upaya mempertemukan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu dasar pengembangan Program Matahati Malasigi, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat adat yang dikembangkan PT Pertamina EP Papua Filed melalui pendekatan pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata, foto: Irianti/Balleonews

Ada FFI, Kasuari, Unimuda, Unamin, Universitas Sebelas Maret Solo, HPI, Dinas Pariwisata Kabupaten dan Provinsi, serta berbagai pihak lainnya yang terlibat dalam proses pendampingan. Bukan satu pihak yang mengubah Malasigi, ada banyak tangan yang bekerja. Namun yang terpenting adalah masyarakat sendiri yang tetap berada di depan.

Ada satu bagian dari perjalanan itu yang tidak kalah penting, yaitu ketidakpercayaan. Menase mengakui bahwa masyarakat pernah khawatir ketika ditawarkan mengikuti program Perhutanan Sosial, mereka takut tanah leluhur akan diambil negara. Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan, pengalaman masa lalu membuat masyarakat berhati-hati.

Menurut Menase, banyak NGO pernah datang ke Kabupaten Sorong mengambil data, kemudian pergi. Masyarakat yang tinggal tetap di kampunglah yang kemudian harus menghadapi konsekuensinya. Karena itulah ketika konsep Perhutanan Sosial datang, masyarakat tidak langsung menerimanya. Bahkan pernah terjadi perdebatan dengan pihak Kementerian. Namun setelah proses panjang, masyarakat akhirnya mendapatkan SK Perhutanan Sosial dengan luas sekitar 1.750 hektare. Bagi Menase dan masyarakat Malasigi, keputusan itu justru menjadi titik balik. Wilayah tersebut dibagi menjadi dua zona, yakni zona pemanfaatan dan zona lindung. Zona pemanfaatan digunakan masyarakat untuk berkebun dan berburu secara terbatas, sementara zona lindung diarahkan menjadi kawasan wisata.

Pembagian itu memberi satu pesan penting, masyarakat tidak harus meninggalkan hutan untuk menjadi sejahtera. Mereka bisa menjaga hutan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi darinya. Dari sinilah Program Matahati Malasigi semakin berkembang. PT Pertamina EP Papua Field melihat Malasigi bukan hanya sebagai kampung yang membutuhkan bantuan. Malasigi dipandang sebagai kampung yang memiliki potensi besar untuk berkembang secara mandiri.

Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi menjelaskan, potensi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan ikut mengambil bagian. “Kenapa Malasigi? Karena Malasigi ini prospeknya sangat luar biasa,” ujarnya. Menurut Ardi, Malasigi merupakan kampung perintis yang perlu didukung agar pada akhirnya mampu berdiri sendiri.

Ada persoalan yang menurutnya perlu ditangani bersama, terutama ancaman terhadap hutan dan kebutuhan dasar masyarakat. Salah satunya air bersih, yang lainnya listrik. Dua hal yang sangat sederhana bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi masyarakat Malasigi. Sebelum ada sistem air bersih, masyarakat mengandalkan air sungai. Air yang keruh harus diendapkan dulu baru dimasak. Kemudian dibiarkan selama satu sampai dua jam agar kotoran turun, barulah air digunakan. Bagi masyarakat yang hidup di tengah hutan, ironisnya, air bersih justru menjadi salah satu kebutuhan yang paling sulit dipenuhi.

Disinilah cerita Malasigi menjadi semakin menarik. Karena solusi yang digunakan bukan teknologi mahal yang harus didatangkan dari jauh. Solusinya justru berasal dari sesuatu yang selama ini tumbuh di sekitar masyarakat, yakni pisang.

Melalui inovasi Revitaleaf Revitalizing Clean Energy and Biodegradable Water Filtration Using Banana Leaf, pelepah pisang dimanfaatkan menjadi media filtrasi yang dikenal sebagai Hydro B-Leaf Filter. Gagasannya sederhana, jika pelepah pisang dapat digunakan sebagai filter dalam konteks tertentu di lingkungan kerja Pertamina, mengapa tidak dicoba untuk penyaringan air? Pertanyaan sederhana itu kemudian diuji dan berhasil diterapkan.

Melalui inovasi Revitaleaf Revitalizing Clean Energy and Biodegradable Water Filtration Using Banana Leaf, pelepah pisang dimanfaatkan menjadi media filtrasi yang dikenal sebagai Hydro B-Leaf Filter di Kampung Adat Malasigi, foto: Irianti/Balleonews

Air sungai yang sebelumnya keruh diproses melalui sistem filtrasi dan pompa, sehingga menghasilkan air yang lebih bersih dan dapat digunakan masyarakat. Hydro B-Leaf Filter tersebut telah memperoleh sertifikat paten sederhana dengan nomor IDS000008483. Yang membuat inovasi ini memiliki makna lebih dari sekedar teknologi adalah keterlibatan masyarakat adat didalamnya. Pelepah pisang yang sebelumnya menjadi limbah pertanian kini mempunyai fungsi baru, masyarakat pun memiliki peran dalam menjaga sistem tersebut.

Setiap dua minggu, pelepah pisang diganti. Bak penampungan dibersihkan dan sistem dipelihara, tidak ada teknologi yang benar-benar berarti jika masyarakat tidak mampu merawatnya. Dan di Malasigi, masyarakat mulai belajar bahwa mereka bukan hanya pengguna tapi mereka adalah pengelola.

Masalah lainnya adalah listrik. Dulu malam hari berarti pelita, obor dan gelap. Menase mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk minyak tanah. Dalam sebulan, masyarakat bisa menghabiskan sekitar Rp 5.000.000 sampai Rp 6.000.000 untuk kebutuhan minyak tanah. Angka yang sangat besar bagi masyarakat kampung, kini suasananya berubah. PLTS berkapasitas sekitar 8.700 watt menjadi sumber energi baru bagi Kampung Malasigi.

Malam tidak lagi sepenuhnya identik dengan gelap, lampu bisa menyala, aktivitas masyarakat bisa berlangsung, fasilitas wisata dapat digunakan dan rumah-rumah warga memperoleh akses listrik. Menase menyebut perubahan itu dengan sederhana.

“Sekarang lampu 24 jam sampai hari ini,” ujarnya.

Tidak ada istilah teknis yang rumit dalam kalimat tersebut. Tetapi bagi seseorang yang pernah hidup bertahun-tahun dengan pelita, kalimat itu mengandung arti yang sangat besar. Itu adalah cahaya. Bagi masyarakat adat Malasigi, hubungan dengan tanah tidak dapat dihitung hanya dengan nilai ekonomi. Menase mengatakannya dengan sebuah perumpamaan yang sangat dalam, “Tanah ini sebagai Bapak dengan Mama”.

Karena itu, menjaga tanah berarti menjaga kehidupan. Menjaga hutan berarti menjaga masa depan dan menjaga air berarti menjaga anak-anak mereka. Sebelum sistem air bersih hadir, masyarakat harus berhadapan dengan air sungai yang keruh. Menurut kesaksian warga ketika masih mengkonsumsi air sungai secara langsung, masyarakat lebih sering mengalami sakit. Kini, air melewati proses penyaringan terlebih dahulu.

Bagi masyarakat Malasigi, manfaatnya bukan hanya soal air yang tampak lebih jernih. Ada rasa aman, ada kenyamanan dan ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Keran dibuka, air keluar dan air itu sudah dapat digunakan. Sesuatu yang bagi masyarakat perkotaan mungkin dianggap biasa. Tetapi bagi Malasigi, itu adalah kemajuan besar.

Di tengah perubahan itu, ada orang-orang yang bekerja dari dalam masyarakat sendiri. Salah satunya Dominggus Absalom Kalami. Lahir di Sorong pada 1986, Dominggus merupakan pemuda Suku Moi Kelim yang kemudian menjadi salah satu penggerak Program Matahati Malasigi. Ia membentuk Kelompok Penggerak Pariwisata atau Pokdarwis Belempe di bawah naungan LPHD Belempe. Baginya, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan melarang orang masuk. Masyarakat harus diberikan alasan mengapa hutan perlu dijaga dan alasan itu salah satunya adalah masa depan.

Melalui Pokdarwis Belempe, masyarakat diajak memahami konservasi, mengelola kawasan wisata, menjaga fasilitas serta mengembangkan kegiatan ekonomi yang tidak merusak alam. Burung Cenderawasih, Kasuari dan satwa lainnya bukan lagi sekedar bagian dari hutan. Mereka menjadi bagian dari identitas Malasigi, sekaligus menjadi daya tarik wisata.

PLTS berkapasitas sekitar 8.700 watt menjadi sumber energi baru bagi Kampung Malasigi, foto: Irianti/Balleonews

Dominggus juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah hingga mitra eksternal. Dari proses itulah fasilitas seperti homestay, jalur trekking dan pusat informasi mulai berkembang.

Di samping Dominggus, ada Edison Fami. Pemuda asli Papua yang bergabung dalam Pokdarwis Belempe, Edison tumbuh dalam proses perubahan tersebut. Ia ikut mengintegrasikan konservasi, budaya dan pengelolaan ekowisata. Ia juga terlibat dalam berbagi pengetahuan kepada anggota kelompok mengenai pengelolaan fasilitas air bersih dan pengembangan wisata.

Yang sedang dibangun di Malasigi bukan hanya fasilitas, tetapi pengetahuan. Karena ketika suatu saat pendampingan dari luar berkurang, pengetahuan itulah yang akan tinggal pengetahuan tersebut harus berada di tangan masyarakat.

Ada satu ukuran keberhasilan yang jauh lebih sederhana daripada jumlah wisatawan, pendidikan anak-anak. Menase mengatakan, salah satu dampak paling penting dari berkembangnya wisata adalah masyarakat mulai memiliki penghasilan tambahan.

“Dengan adanya wisata disini, maka ekonomi masyarakat di Kampung Malasigi bisa meningkat,” ujar Menase.

Penghasilan itu kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk sekolah. Anak-anak Malasigi kini memiliki peluang yang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan. Hutan yang dijaga orangtua mereka, perlahan membantu membuka jalan menuju ruang kelas bagi generasi berikutnya.

Di salah satu sudut kehidupan Malasigi, ada Lisbet Suu. Ia adalah mama yang membuat noken, tangannya telah lama akrab dengan bahan-bahan alam. Noken dibuat dari kulit kayu atau yang disebut Obo, serta biji rumput. Prosesnya panjang, kulit kayu dikupas atau dikikis kemudian dijemur sampai kering. Setelah itu digiling, diluruskan dan dikikis menjadi bagian-bagian kecil barulah dianyam menjadi noken. Tidak ada proses instan, setiap noken membawa tradisi dan kini juga membawa harapan.

Dalam sebulan, Lisbet bisa membuat sekitar 20 hingga 30 noken. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 500.000, tergantung ukuran dan jenisnya. Dulu, noken hasil buatannya dititipkan untuk dijual di Rumah Etnik Papua. Kini kondisinya berbeda, wisatawan yang datang ke Malasigi dapat langsung membeli noken dari masyarakat. Ada transaksi yang berlangsung tanpa perantara, ada pembeli yang datang langsung, ada uang yang langsung masuk ke tangan pembuatnya dan disitulah perubahan ekkonomi terasa.

Lisbet bahkan mampu membiayai kuliah dua anaknya dari hasil penjualan noken, sayur dan pinang. Anak pertamanya kuliah di Universitas Papua-Manokwari dan anak ketiganya mengambil jurusan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Sorong. Ia memiliki empat anak. Di tangannya, noken bukan sekedar kerajinan. Noken menjadi biaya pendidikan dan noken menjadi tiket menuju masa depan.

Di salah satu sudut kehidupan Malasigi, ada Lisbet Suu. Ia adalah mama yang membuat noken, tangannya telah lama akrab dengan bahan-bahan alam. Noken dibuat dari kulit kayu atau yang disebut Obo, serta biji rumput. Lisbet bahkan mampu membiayai kuliah dua anaknya dari hasil penjualan noken, sayur dan pinang, foto: Irianti/Balleonews

Ada satu perubahan lainnya yang mungkin tidak terlihat dalam laporan angka, yakni cara masyarakat memandang satwa. Menase menjelaskan bahwa masyarakat Malasigi sejak dulu tidak terbiasa berburu burung-burung endemik tertentu untuk diperjualbelikan. Mereka mengenal pemanfaatan satwa untuk konsumsi, tetapi burung seperti Cenderawasih memiliki kedudukan berbeda.

“Kalau burung Cenderawasih, Kakatua, Nuri itu kami memang jaga dari dulu,” imbuh Menase.

Ada alasan budaya, Cenderawasih disebut sebagai burung surga. Bagi masyarakat Papua, ada nilai tertentu yang membuat burung itu tidak diperlakukan seperti satwa biasa. Kini nilai budaya tersebut bertemu dengan kepentingan konservasi. Hasilnya adalah sebuah pemahaman baru, burung yang hidup lebih lama di alam dapat memberikan manfaat yang lebih panjang daripada burung yang ditangkap dan dijual. Seekor Cenderawasih yang tetap berada di hutan, dapat terus menjadi bagian dari ekosistem dan juga dapat terus menjadi alasan wisatawan datang.

Perjalanan panjang itu akhirnya mendapat pengakuan. Kampung Wisata Adat Malasigi terpilih sebagai juara pertama kategori desa wisata rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024. Menurut Menase, sekitar 6.013 kampung mengikuti ajang tersebut. Bagi masyarakat Malasigi, penghargaan itu bukan sekedar piala. Itu seperti pengakuan bahwa apa yang mereka kerjakan dari balik hutan memiliki arti.

Sebelumnya, Riki juga mengikuti ajang Pemuda Pelopor. Di tingkat provinsi, Riki meraih juara pertama dan kemudian juara kedua di tingkat pusat. Dominggus Absalom Kalami juga membawa nama Malasigi dalam Local Hero Pertamina dan meraih juara pertama, prestasi tersebut membuat masyarakat semakin percaya diri. Bahwa kampung kecil yang dahulu hanya dikenal karena sumber air panas, ternyata bisa berdiri di panggung yang lebih luas.

Bagi Pertamina EP Papua Field, perjalanan tersebut kini memasuki fase yang berbeda. Program Matahati Malasigi diinisiasi sejak 2022 dan dijalankan secara bertahap hingga 2025. Tahun 2026 menjadi masa yang diarahkan menuju kemandirian.

Nilai budaya bertemu dengan kepentingan konservasi. Hasilnya adalah sebuah pemahaman baru, burung yang hidup lebih lama di alam dapat memberikan manfaat yang lebih panjang daripada burung yang ditangkap dan dijual, foto: Irianti/Balleonews

Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi menyebut, fase tersebut sebagai exit strategy. Namun keluar bukan berarti meninggalkan, Pertamina masih akan melakukan pendampingan terutama dalam aspek yang dinilai masih perlu diperkuat. Seperti promosi dan dukungan terhadap kegiatan masyarakat. Sebab tujuan akhirnya bukan membuat masyarakat terus bergantung, justru sebaliknya.

Program akan dianggap berhasil ketika masyarakat mampu menjalankan kegiatan secara mandiri. Lembaga seperti Belempe menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka yang kelak mengambil alih peran, mereka yang mengelola, mereka yang menjaga dan mereka pula yang menentukan arah kampung.

Nama program itu sendiri memiliki makna. Matahati Malasigi, sebuah nama yang lahir dari harapan. Menurut Ardi, ketika program dimulai, Malasigi masih merupakan kampung perintis. Belum banyak yang tersedia, masih kosong. Karena itu, muncul harapan agar dari sana lahir sesuatu. Masyarakat tidak lagi berpangku tangan, masyarakat mulai produktif, hutan menghasilkan manfaat, wisata menghasilkan pendapatan, kerajinan menghasilkan pemasukan, air bersih meningkatkan kualitas hidup, listrik membuka aktivitas baru dan semuanya berjalan dengan tetap menjaga alam.

Ada satu pertanyaan yang menarik, apa manfaat semua ini bagi Pertamina? Ardi menjelaskan bahwa manfaatnya tidak langsung. PT Pertamina EP Papua Field memiliki wilayah operasi di sekitar Malasigi, ada Sumur Kembo yang direncanakan mulai diproduksikan pada tahun berikutnya. Karena itu, hubungan baik dengan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kegiatan operasional. Masyarakat yang merasa dilibatkan, memiliki ruang lebih besar untuk membangun komunikasi dan kerja sama.

Namun jika seluruh kisah ini hanya dibaca dari perspektif perusahaan, ada bagian penting yang hilang. Karena di lapangan, manfaat paling nyata dirasakan oleh masyarakat. Seorang mama dapat menjual noken, seorang anak dapat kuliah, seorang bapak dapat membuka keran dan memperoleh air bersih. Anak-anak dapat belajar pada malam hari, wisatawan dapat datang, pemuda dapat bekerja sebagai pemandu dan hutan tetap berdiri.

Field Manager Pertamina EP Papua Field Ardi, foto: Irianti/Balleonews

Ada mimpi yang lebih besar. Selama ini, Sorong dikenal luas sebagai pintu masuk menuju Raja Ampat. Wisatawan datang, menginap sebentar, kemudian berangkat. Setelah dari Raja Ampat, mereka kembali ke Sorong untuk melanjutkan perjalanan. Ardi melihat peluang berbeda. Menurutnya, Sorong memiliki kekayaan wisata yang tidak hanya berupa wisata bahari. Ada wisata etnik, ada budaya, ada hutan, ada kehidupan masyarakat adat dan ada cerita.

Malasigi dapat menjadi salah satu bagian dari cerita itu. Bayangkan wisatawan yang semula hanya transit di Sorong, kemudian memutuskan tinggal satu atau dua malam lebih lama. Mereka mengunjungi Malasigi, melihat Cenderawasih, menyusuri hutan, menikmati air panas, menginap di homestay, membeli noken, membeli hasil kebun dan menggunakan jasa pemandu lokal.

Uang yang sebelumnya berhenti di pusat kota, dapat bergerak lebih jauh. Masuk ke kampung, masuk ke keluarga, masuk ke tangan mama-mama dan masuk ke pendidikan anak-anak. Efeknya tidak berhenti di satu rumah, ia bergerak dari satu keluarga ke keluarga lain.

Di Malasigi, perubahan terbesar mungkin bukanlah PLTS, bukan pula filter air, bukan penghargaan. Perubahan terbesar adalah cara masyarakat melihat masa depan. Dahulu hutan terutama dipandang sebagai tempat memperoleh kebutuhan hidup, kini hutan juga dipandang sebagai aset yang harus dijaga agar manfaatnya tidak berhenti hari ini. Burung tidak perlu ditangkap, cukup diamati. Pohon tidak perlu ditebang, cukup dijaga. Air tidak harus dicari jauh-jauh, cukup dipelihara. Pelepah pisang tidak harus menjadi limbah, ia bisa menjadi penyaring. Matahari tidak hanya menerangi hutan, ia bisa menjadi sumber listrik. Dan noken tidak hanya menjadi benda tradisional, ia bisa membayar uang kuliah. Di titik itulah konservasi bertemu dengan kehidupan.

Bagi masyarakat kota, air bersih mungkin tinggal membuka keran. Namun di Malasigi, satu keran yang mengalirkan air bersih adalah hasil dari perjalanan panjang. Ada sungai, ada air keruh, ada bak penampungan, ada mesin, ada genset, ada pelepah pisang. Ada orang-orang yang mencoba, ada masyarakat yang belajar dan ada sistem yang kini harus dirawat.

Setiap dua minggu, pelepah pisang diganti, bak dibersihkan dan sistem diperiksa. Pekerjaan sederhana itu menjadi bagian dari rutinitas baru, rutinitas yang sebelumnya tidak pernah ada. Setiap kali air mengalir dari keran rumah, ada pengingat bahwa kehidupan bisa berubah ketika sebuah masalah tidak hanya dibicarakan, tetapi dicarikan jalan keluarnya bersama.
Begitu pula listrik. Bagi sebagian orang, listrik 24 jam bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi bagi keluarga di Malasigi yang dulu mengandalkan pelita dan mengeluarkan jutaan rupiah untuk minyak tanah, cahaya yang menyala sepanjang malam adalah simbol perubahan. Anak-anak dapat belajar, orangtua dapat melakukan pekerjaan, fasilitas wisata dapat beroperasi dan komunikasi menjadi lebih mudah.

Kampung tidak lagi berhenti beraktivitas ketika matahari tenggelam, cahaya itu datang dari matahari. PLTS menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan yang lebih penting, energi tersebut membantu masyarakat membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Namun masyarakat Malasigi tidak menganggap semua persoalan telah selesai. Menase mengatakan, mereka masih terus berjuang. Itulah mungkin bagian paling manusiawi dari seluruh perjalanan ini, karena pembangunan bukan garis akhir. Tidak ada kampung yang tiba-tiba sempurna setelah mendapat bantuan.

Program Matahati Malasigi ikut mendorong hidupnya ekonomi kreatif mama-mama di Kampung Adat Malasigi, foto: Irianti/Balleonews

Masih ada kebutuhan promosi, masih ada kebutuhan peningkatan kapasitas, masih ada kebutuhan pengelolaan wisata, masih ada kebutuhan menjaga hutan, masih ada kebutuhan memastikan anak-anak terus sekolah dan ada tantangan terbesar. Yakni memastikan semua yang telah dibangun dapat bertahan setelah program pendampingan berakhir.

Disinilah kemandirian akan diuji, apakah masyarakat mampu mengelola listrik? Apakah sistem air dapat dirawat? Apakah wisata dapat terus berkembang? Apakah noken terus memiliki pasar? Apakah hutan tetap terjaga ketika nilai ekonominya meningkat? Jawabannya akan ditentukan oleh masyarakat Malasigi sendiri.

Matahati Malasigi pada akhirnya bukan hanya cerita tentang Pertamina, bukan hanya cerita tentang inovasi pelepah pisang. Bukan hanya tentang PLTS dan bukan hanya tentang penghargaan desa wisata. Ini adalah cerita tentang masyarakat adat yang perlahan menemukan cara baru untuk berdiri diatas tanah leluhur mereka. Tanpa harus meninggalkan adat, tanpa harus meninggalkan hutan dan tanpa harus menghentikan kehidupan tradisional. Mereka hanya mengubah cara memanfaatkan apa yang telah diberikan alam. Hutan tetap menjadi hutan, tetapi sekarang ia memiliki nilai ekonomi yang lebih panjang. Burung tetap terbang, tetapi sekarang keberadaannya juga menjadi alasan wisatawan datang.

Pelepah pisang tetap tumbuh, tetapi kini sebagian diantaranya menjadi penyaring air. Matahari tetap terbit setiap pagi, tetapi cahayanya kini juga berubah menjadi listrik. Dan tangan mama-mama tetap menganyam noken, tetapi kini anyaman itu dapat membawa anak-anak mereka menuju bangku kuliah.

Di sebuah kampung adat yang berada jauh dari hiruk pikuk kota, perubahan itu sebenarnya terlihat dari hal-hal kecil. Dari keran yang mengeluarkan air, dari lampu yang menyala, dari anak yang belajar, dari wisatawan yang datang, dari mama-mama yang berhasil menjual noken, dari pemuda yang menjadi pemandu, dari burung yang kembali ke hutan dan dari masyarakat yang mulai percaya bahwa menjaga alam bukan berarti mengorbankan kesejahteraan.

Justru sebaliknya. Menjaga alam dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan, mungkin itulah inti dari perjalanan Malasigi. Bahwa kemajuan tidak selalu harus berarti meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang, kemajuan justru berarti membawa nilai-nilai lama ke masa depan dengan cara yang baru. Dan di Malasigi, masa depan itu sedang dibangun sedikit demi sedikit.

Dari hutan, dari air, dari matahari, dari noken, dari adat, dari kerja bersama dan dari manusia-manusia yang percaya bahwa tanah leluhur bukan hanya tempat untuk dilahirkan. Tanah itu adalah tempat untuk menjaga kehidupan. Karena bagi masyarakat Malasigi, seperti kata Menase Fami, tanah adalah Bapak dan Mama. Maka menjaganya berarti menjaga anak-anak, menjaga air berarti menjaga kesehatan, menjaga burung berarti menjaga warisan dan menjaga kampung berarti memastikan bahwa generasi yang belum lahir nanti masih memiliki tempat untuk pulang.

Disanalah Matahati Malasigi menemukan maknanya. Bukan sekedar program yang datang, bekerja, lalu pergi. Tetapi sebuah proses yang diharapkan meninggalkan sesuatu yang lebih penting. Yaitu keyakinan bahwa masyarakat adat dapat menjaga alamnya sendiri, menghidupi keluarganya sendiri dan menulis masa depannya sendiri dengan hutan tetap berdiri sebagai rumah mereka.

Writer: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *