Berita  

Polresta Sorong Kota Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Lewat Program Tokok Sagu

SORONG — Di tengah padatnya permukiman warga Kokoda di Kelurahan Klawasi, Distrik Sorong Barat, Kota Sorong, tumbuh sebuah harapan baru. Bukan dari bangunan megah atau proyek besar, melainkan dari deretan pipa hidroponik yang kini mulai menghijau dengan bibit selada dan pakcoy.

Dari kebun sederhana itu, masyarakat Kokoda, khususnya generasi muda, diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi, membuka peluang usaha, sekaligus menciptakan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.
Harapan tersebut mulai diwujudkan melalui Program Tokok Sagu yang digagas Polresta Sorong Kota.

Program pemberdayaan masyarakat ini kembali menghadirkan langkah nyata dengan meresmikan sekaligus melakukan penanaman bibit selada dan pakcoy di Kebun Hidroponik, Jalan Trikora, Kompleks Kokoda, Kelurahan Klawasi, Jumat sore (2/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.30 WIT itu menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat. Sebab, kebun hidroponik tersebut bukan sekadar tempat menanam sayuran, melainkan ruang belajar, tempat berkumpul, dan awal dari upaya membangun sumber penghasilan baru.

Kapolresta Sorong Kota Kombes Pol Amry Siahaan hadir bersama Ketua Cabang Bhayangkari Polresta Sorong Kota Uli Amry Siahaan, Wakapolresta Sorong Kota AKBP Gleen Molle, para pejabat utama, pengurus Bhayangkari, Lurah Klawasi, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Kokoda.

Suasana kebersamaan terlihat ketika Kapolresta bersama Ketua Bhayangkari dan jajaran melakukan peninjauan langsung ke kebun hidroponik. Mereka kemudian turun bersama warga, menanam bibit selada dan pakcoy di instalasi yang telah disiapkan.

Di antara pipa-pipa tempat bibit ditanam, tersimpan harapan agar kelak tanaman tersebut tumbuh subur, menghasilkan panen berkualitas, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bagi Amry Siahaan, keberadaan kebun hidroponik ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar mendukung ketahanan pangan. Program tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat Kokoda untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Kebun hidroponik ini kita harapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kokoda. Yang paling penting, masyarakat dapat mandiri dan bangkit melalui usaha yang dikelola bersama,” ujar Amry.

Ia mengajak masyarakat untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan kebun tersebut secara berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh bantuan awal, tetapi juga oleh semangat dan komitmen warga dalam mengelolanya.

Bahkan, Amry menyampaikan keinginannya untuk kembali ke kebun tersebut ketika tanaman mulai menghasilkan.

“Kalau sudah panen, tolong informasikan kepada kami. Saya ingin datang bersama-sama masyarakat untuk melaksanakan panen perdana di kebun hidroponik ini,” tambahnya.

Ajakan itu menjadi pesan bahwa kebun hidroponik tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ada proses panjang yang perlu dijalani, mulai dari merawat tanaman, menjaga kualitas hasil produksi, hingga memastikan sayuran yang dipanen dapat dipasarkan.

Namun, di tengah dorongan untuk meningkatkan perekonomian, Amry juga menitipkan pesan penting kepada masyarakat agar tidak mengabaikan pendidikan anak-anak.
“Saya juga berharap anak-anak kita tetap sekolah. Pendidikan penting untuk masa depan mereka,” pesannya.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari hasil usaha hari ini, tetapi juga dari kesempatan generasi muda memperoleh pendidikan dan membangun kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.

Bagi pemuda Kokoda, kebun hidroponik ini menghadirkan pengalaman baru. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada cara menanam sayuran, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai proses membangun instalasi, mengelola media tanam, hingga merawat tanaman agar siap dipanen.

Ketua Karang Taruna Kebun Hidroponik, Steven Arwakom, mengaku bersyukur atas perhatian dan pendampingan yang diberikan Polresta Sorong Kota kepada masyarakat Kokoda. Menurut Steven, program tersebut memberikan kesempatan kepada pemuda setempat untuk belajar keterampilan baru yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Dari pemasangan instalasi pipa hingga proses penanaman, para pemuda mulai mengenal teknik budidaya hidroponik yang sebelumnya belum banyak mereka praktikkan.

Pengetahuan itu menjadi modal awal untuk mengelola kebun secara mandiri. Dengan keterampilan yang terus diasah, mereka diharapkan mampu mengembangkan usaha pertanian perkotaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada bantuan dari pihak lain.
Lebih menggembirakan lagi, hasil panen kebun hidroponik tersebut disebut telah memiliki calon pasar.

Steven memperkirakan tanaman selada dan pakcoy yang baru ditanam dapat dipanen dalam waktu sekitar satu bulan ke depan.
“Kurang lebih satu bulan ke depan sudah bisa panen,” ujarnya.

Adanya calon pasar memberikan harapan tersendiri bagi pengelola kebun. Sebab, hasil pertanian tidak hanya diharapkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga memiliki nilai jual yang dapat menambah pendapatan warga.

Jika dikelola secara konsisten, kebun tersebut berpeluang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang melibatkan lebih banyak pemuda dan masyarakat sekitar.

Dukungan terhadap Program Tokok Sagu juga datang dari kalangan tokoh adat. Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kokoda, Esau Gogoba, menyampaikan apresiasi atas perhatian Kapolresta Sorong Kota yang telah memberikan ruang bagi anak-anak muda Kokoda untuk mengembangkan potensi mereka.

Baginya, pemberdayaan masyarakat melalui pertanian hidroponik merupakan kesempatan yang perlu dijaga bersama. Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada peresmian dan penanaman bibit, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan sehingga masyarakat benar-benar mampu merasakan manfaatnya.

“Kami berterima kasih kepada Kapolresta Sorong Kota yang telah memberikan Program Tokok Sagu kepada anak-anak suku Kokoda. Kami berharap masyarakat terus mendapat bimbingan sehingga kebun ini dapat menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Esau.

Harapan itu sekaligus menjadi pesan bahwa keberhasilan sebuah program pemberdayaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masyarakat menjadi pengelola utama, sementara pendampingan dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha.

Bagi masyarakat Kokoda, kesempatan untuk mengembangkan usaha sendiri bukan hanya tentang memperoleh penghasilan tambahan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi jalan untuk memperkuat kebersamaan dan membangun rasa percaya diri dalam mengelola potensi yang dimiliki.

Rasa syukur juga disampaikan Husen, salah seorang warga Kokoda yang merasakan manfaat dari program pemberdayaan tersebut. Ia berterima kasih atas bantuan bibit selada dan pakcoy serta perhatian Polresta Sorong Kota terhadap masyarakat setempat.

Menurut Husen, kebun hidroponik memiliki peluang untuk berkembang menjadi kegiatan yang mampu membuka lapangan pekerjaan sekaligus memberikan aktivitas positif bagi warga. Kehadiran kebun itu diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih produktif dan terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan manfaat ekonomi.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan perkotaan, peluang usaha seperti ini menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan sesuai kemampuan dan kebutuhan masyarakat. Bagi Husen dan warga lainnya, setiap bibit yang ditanam membawa harapan agar suatu saat kebun tersebut benar-benar memberikan hasil yang dapat dirasakan bersama.

Kegiatan peresmian dan penanaman bibit hidroponik tersebut juga dirangkaikan dengan program Bhayangkari Peduli dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74 Tahun 2026.

Ketua Bhayangkari Cabang Polresta Sorong Kota Uli Amry Siahaan bersama pengurus dan ibu-ibu Bhayangkari turut hadir dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan Bhayangkari menjadi bagian dari rangkaian kepedulian sosial yang menyertai program pemberdayaan masyarakat Kokoda.

Kehadiran jajaran Polresta Sorong Kota, Bhayangkari, pemerintah kelurahan, tokoh adat, dan warga dalam satu kegiatan memperlihatkan pentingnya kolaborasi untuk mendorong perubahan di lingkungan masyarakat.

Melalui Program Tokok Sagu, Polresta Sorong Kota berharap kebun hidroponik di Kompleks Kokoda dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi usaha produktif yang dikelola secara bersama.

Ke depan, keberhasilan program ini akan terlihat dari bagaimana masyarakat mampu menjaga kebun, meningkatkan keterampilan, mengelola hasil panen, serta mengembangkan peluang pemasaran secara berkelanjutan. Sore itu, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Hingga berakhir pada pukul 17.15 WIT, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan kondusif.

Namun, cerita kebun hidroponik di Kompleks Kokoda sesungguhnya baru dimulai. Bibit selada dan pakcoy yang ditanam mungkin masih kecil, tetapi di balik setiap tanaman tersimpan harapan besar: agar pemuda memiliki kesempatan untuk bekerja, keluarga memperoleh tambahan penghasilan, dan masyarakat mampu membangun kemandirian dari lingkungan mereka sendiri.

Sebab, terkadang perubahan besar memang berawal dari sesuatu yang sederhana. Dari sepetak kebun, tangan-tangan yang mau belajar, dan semangat untuk menanam masa depan bersama.

Editor: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *