Berita  

Persiapan Pelantikan Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia PBD Capai 95 Persen, Sekitar 500 Peserta Akan Hadir

Kota Sorong – Persiapan pelantikan dan rapat kerja (Raker) pertama Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Jayapura Provinsi Papua Barat Daya telah mencapai 95 persen. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu 7 Maret 2026, dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Papua Barat Daya.

Ketua Panitia Pelantikan dan Rapat Kerja Pertama Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Provinsi Papua Barat Daya Amus Yanto Ijie mengatakan, seluruh persiapan kegiatan hampir rampung dan saat ini panitia tinggal menunggu pelaksanaan acara.

“Persiapan sudah mencapai sekitar 95 persen. Kami tinggal menunggu hari pelaksanaan,” ujar Amus.

Ia menjelaskan, peserta yang diperkirakan hadir dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 500 orang. Mereka terdiri dari pengurus Dewan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Kota Studi Hollandia Jayapura Provinsi Papua Barat Daya, serta perwakilan alumni dari lima kabupaten, satu kota dan Provinsi Papua Barat Daya yang jumlahnya sekitar 200 orang.

Selain para alumni, panitia juga mengundang berbagai pihak sebagai tamu undangan, diantaranya organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta pimpinan perguruan tinggi yang berada di wilayah Sorong Raya.

Menurut Amus, setelah prosesi pelantikan, kegiatan akan dilanjutkan dengan rapat kerja pertama yang bertujuan menyusun serta membahas berbagai program kerja organisasi ke depan. Program-program tersebut difokuskan pada pelayanan kepada masyarakat, termasuk pelayanan sosial dan pelayanan kesehatan.

“Kami ingin agar organisasi alumni ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga bisa berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui program sosial dan kesehatan,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan juga akan diakhiri dengan buka puasa bersama yang melibatkan para alumni serta sejumlah kelompok pengajian yang turut diundang dalam acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Amus juga menanggapi penggunaan kayu untuk pemasangan bendera di sepanjang jalan menjelang pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan bahwa kayu yang digunakan bukan berasal dari mangrove.

“Kami pastikan kayu yang dipakai bukan kayu mangrove, tetapi kayu yang diambil dari gunung dan hutan. Kami ingin memberi contoh untuk menjaga dan melestarikan hutan mangrove,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan hutan mangrove di Kota Sorong saat ini semakin berkurang sehingga perlu dijaga bersama. Jika mangrove terus ditebang, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak lingkungan seperti abrasi pantai serta berkurangnya habitat ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Kalau mangrove terus diambil, dampaknya bisa terjadi abrasi pantai dan kita juga bisa kehilangan ikan-ikan segar yang selama ini menjadi sumber pangan masyarakat,” pungkasnya.

Writer: Irianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *