Pagi itu, aroma laut bercampur dengan hiruk-pikuk tawar-menawar di Tempat Pelelangan Ikan Jembatan Puri, Klademak. Di sudut-sudut lapak sederhana, mama-mama Papua menata hasil kebun dan tangkapan laut mereka, berharap dagangan cepat laku.
Namun Rabu (22/4/2026) menjadi hari yang berbeda. Langkah kaki orang nomor dua di negeri ini, Gibran Rakabuming Raka mengubah suasana pasar menjadi lebih hidup dan penuh harap.
Didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, Wali Kota Sorong Septinus Lobat dan Wakil Wali Kota Sorong Anshar Karim, kunjungan kerja Wakil Presiden di Tempat Pelelangan Ikan Jembatan Puri, Kota Sorong, seolah menjadi panggung pertemuan antara negara dan rakyat kecil. Tak ada sekat protokoler yang kaku, yang ada hanya senyum, sapaan hangat dan interaksi yang terasa dekat.

“Bapak Wapres, kesini… beli mama punya jualan ini!” seru seorang mama Papua dari balik lapaknya.
Seruan itu bukan sekadar panggilan, melainkan cerminan harapan. Dan Gibran meresponsnya dengan cara sederhana, menghampiri satu per satu pedagang. Ia membeli hasil kebun, ikan, hingga dagangan kecil lainnya, sambil sesekali berbincang ringan. Senyumnya menjadi bahasa universal yang langsung diterjemahkan sebagai kepedulian.
Di tengah keramaian itu, antusiasme warga Sorong tak terbendung. Banyak yang datang bukan hanya untuk melihat dari dekat, tetapi juga untuk menyampaikan harapan yang selama ini tersimpan.
Salah satunya datang dari Yosina Kambu, tenaga honorer di Dinas Perhubungan Kota Sorong. Dengan suara yang tegas namun penuh harap, ia menyampaikan pesan yang mewakili ribuan honorer lainnya.
“Bapak Wapres, tolong sampaikan ke Presiden, kalau bisa kami tenaga honorer diangkat jadi PNS. Kami sudah puluhan tahun mengabdi,” ujarnya.

Harapan lain datang dari sektor nelayan. Piter Koromat, Ketua Koperasi Nelayan Tangkap Kota Sorong, tak melewatkan kesempatan itu untuk menyuarakan kondisi pasar yang dinilainya memprihatinkan.
“Bapak Wapres tadi lihat sendiri, mama-mama Papua masih jualan di bawah tanah. Ini sudah lama sekali. Kami berharap ada perbaikan,” katanya.
Apa yang disampaikan Piter bukan tanpa alasan. Di balik geliat ekonomi rakyat di Jembatan Puri, tersimpan realitas yang kontras. Fasilitas yang belum layak, ruang jualan yang terbatas dan kondisi pasar yang jauh dari kata representatif.
Kunjungan inipun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat. Diantara tumpukan ikan segar dan hasil bumi, terselip aspirasi tentang kesejahteraan, keadilan dan perhatian yang lebih besar dari negara.
Bagi mama-mama Papua, kehadiran Wakil Presiden bukan hanya tentang dagangan yang diborong hari itu. Lebih dari itu, ada harapan bahwa suara mereka didengar dan suatu saat nanti mereka tak lagi berjualan di tempat yang sempit dan kurang layak, melainkan di pasar yang lebih manusiawi dan membanggakan. Jembatan Puri hari itu bukan sekadar pasar. Ia menjadi saksi pertemuan antara harapan rakyat dan janji pembangunan—yang kini ditunggu untuk benar-benar terwujud.













